Pernahkah kalian merasakan cinta yang lain daripada yang lain? Cinta kepada pasangan, cinta kepada teman, atau cinta pada sosok idola. Yang itu mengalir begitu saja, dari awal pandangan mata.
Cinta VS Nafsu.
Bisa dibedakan meski itu sangat tipis, antara cinta dan nafsu. Karena nafsu bisa karena mencintai begitu juga mencintai karena nafsu. Tinggal dibolak-balik saja, sebenarnya.
Namun, maksud dari itu adalah jika seseorang terlalu mencintai pada pasangan, misalnya. Ia lebih bersifat menguasai dengan nafsunya, sehingga saat pasangan nya melakukan hal yang tidak bisa diterima oleh nafsu nya, maka yang terjadi adalah goncangan emosi yang meluap-luap. Yang tanpa disadari, ia namakan sendiri dengan mencintai sepenuh hati.
Sedangkan, bernafsu untuk mencintai lebih cenderung meluapkan cinta yang menggebu-gebu pada pasangan. Entah dengan perhatian, hadiah, maupun mendoakan pasangan saat tidak ada sinyal hape. Dan saking asiknya, lalu lupa pada sekitarnya. Yang ada hanya pasangannya saja, yang lainnya tidak ada.
Kedua pernyataan di atas hanya kabut dari makna sebenarnya. Sebab, kebanyakan seorang manusia akan menciptakan alasan untuk menutupi keburukannya. Hingga nasfu birahi saja, biasanya dianggap nya dengan cinta. Meskipun kata cinta bisa digantikan dengan nilai transferan atau uang cash.
Yah, sungguh menggelikan tingkah polah kita sebagai manusia. Menganggap dirinya paling benar, dan jika salah sibuk mencari kambing hitam.
Perempuan dan Keindahan.
Berbanggalah kalian para kaum hawa, karena kalian lah keindahan dunia terpancar. Maha Kuasa telah mempersembahkan hadiah syurga saat kalian mensyukuri nikmat.
Banyak hal yang tidak sempat menjadi perbincangan karena rasa tabu terlalu menyekat tenggorokan. Atau kekuatan daya tahan menggeluarkan kalimat tersekat undang-undang pelecehan terhadap perempuan. Yang membentuk sebuah benteng tebal sekedar menikmati keindahan yang Tuhan berkati pada setiap kaum hawa.
Akan menjadi rusak pikiran nya, setiap lelaki yang disuguhkan perempuan. Hanya segelintir saja yang menganggap sama, karena tawadhu. Tapi, menjadi halal saat pandangan keindahan perempuan tidak menimbulkan hasrat seksual. Cukup mengagumi tanpa rasa memiliki.
Closing.
Apapun yang kalian fikirkan tentang kemolekan perempuan, segeralah didasari dengan rasa timbang kasih. Bukan rasa memiliki segalanya pada setiap perempuan. Agar ada sekat pembeda kita sebagai manusia dengan hewan.

