-->
  • Jelajahi

    Copyright © Intermezzo
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Ads

    Sebuah Janji

    john_aripe
    Saturday, January 22, 2022, January 22, 2022 WIB Last Updated 2022-03-18T05:37:16Z
    masukkan script iklan disini

    Angin berhembus tipis, enggan membiarkan kabut tepal ini menyingkir. Semak dan dedaunan rimbun basah, tak juga kering. Semua melambangkan suasana hati yang bingung menatap ke depan. 

    Hari ini, sepasang muda-mudi akan mengikat janji di depan penghulu. Memang bukan aku, tapi kekasih hatiku. Dia terpaksa menerima pinangan pemuda yang entah dari mana asal-usul nya.

    Ada perasaan khawatir yang menggantung di mata. Maski janji yang terucap malam tadi selalu menghibur hati, dia kekasihku akan lari bersama ku menembus batas jembatan sakral pernikahan. Sedang janji itulah, yang membuatku mampu bertahan mendampingi kekasih hatiku melangsungkan akad nikahnya.

    Semula bermuara dari beberapa tahun yang lalu. Dia adalah adik kelasku di SMA. Dia agak menonjol diantara teman sekelasnya. Sifatnya agak tomboy, lebih senang bergaul dengan cowok daripada dengan cewek. Akan tetapi, semua itu berbalut kecantikan alami yang tanpa polesan.

    Karena terlanjur suka ku pada sosok Santi inilah, membuatku berani mendekati nya. Awalnya ia seperti risih kepada kehadiran ku di kalangan Santi. Namun, karena ia bergaul dengan para cowok, maka lama kelamaan ia pun menerima kehadiran ku, sebagai seorang teman.

    Hari berganti hari, rasa suka ku berubah menjadi rasa cinta. Lantas ku beranikan diri untuk mengirim surat cinta kepada Santi. Lama aku menunggu jawaban surat cintaku. Hingga jenuh menghinggapi hati.

    Tepat dua minggu setelah surat cinta itu, surat balasan dari Santi datang lewat teman ku. Aku buka pelan-pelan amplop warna merah jambu dengan motif bunga-bunga itu, berharap menemukan bersambut rasa cinta ku pada nya.

    Isi tulisannya singkat hanya bertuliskan pena warna biru, 'aku mau menjadi pacar mu' diiringi gambar hati dan panah. Seketika kamarku yang pengap penuh bau rokok pun seketika berubah menjadi harum penuh bunga-bunga, hatiku berdekup kencang dan saking bahagianya aku teriak-teriak tak karuan, 'mak.. anakmu punya pacar mak!!' teriak ku kencang-kencang, tak perduli sekeliling ku.

    Lantas aku nyalakan motor MegaPro ku, ku tancapkan gas langsung ke kampung sebelah untuk menemui dia, ya dia yang sekarang resmi jadi kekasihku, Santi. Sudah kusiapkan kata-kata rayuan, sekedar ucapan terimakasih atas diterimanya rasa cintaku. Aku susun rencana ngedate sambil bersiul di atas motor ku pacu.

    Sesampainya di depan gang rumah nya. Malah ada rasa ragu di hatiku, bahkan hampir meredupkan api semangat ku sedari rumah. Hingga tak sadar aku puter balik kemudi motor ku. Dan sampai di pertigaan masuk kampung Santi, aku termenung dan putar lagi ke arah rumahnya, begitu sampai berulang kali.

    Hari berganti, saat itu aku tidak sengaja bertemu kekasih idaman hatiku di lorong kelasku. Jantungku berdegup kencang, arah mataku tak berkedip, dan bibir kelu tak sanggup berkata-kata. Dan dia, ya dia Santi melayangkan senyuman manisnya kepada ku. Sungguh aku sangat terpesona dan sungguh-sungguh terpesona. Hingga lupa harus membilang apa.

    Selanjutnya, hari-hari kami lalui dengan sungguh bahagia. Kami sering main ke tempat-tempat hiburan di daerah kami. Sampai tak terasa aku harus lulus dan meninggalkan kehidupan SMA ku, yang otomatis juga tidak bisa tiap hari menjumpai wajah cantik kekasihku, Santi. Meskipun tiap hari aku antar jemput, namun kehidupan masa SMA dengan Santi tidak bisa terbayarkan. 

    Walaupun demikian, hubungan kami pun semakin lama-semakin dekat. Aku yang meneruskan pekerjaan bapak sebagai supir angkutan tetap menyisihkan waktu untuk bertemu dengan Santi.

    Kemudian tak terasa Santi lulus sekolah, ia pun bercita-cita langsung dapat kerja. Dia ingin merantau di kota sebelah, dimana dia melamar pekerjaan. Sebenarnya ada rasa khawatir yang berlebihan di hatiku. Takut kehilangannya.

    Lantas, aku bilang ke orang tuaku untuk meminang Santi. Karena orang tua ku pun sudah mengenal Santi, maka mereka pun mau meminang Santi untuk aku jadikan calon istri.

    Tanggal pun ditentukan, dan kedatangan kami disambut hangat oleh keluarga Santi, dan akhirnya kami resmi tunangan malam itu. Betapa bahagianya aku dan Santi, selangkah lagi kami akan menikah, pikir kami.

    Selang beberapa hari, Santi dapat panggilan kerja. Dan dia datang ke rumah untuk minta izin dan pamit pada ku dan juga orang tua ku. Calon istri dan mantu orang tuaku itu pun aku antar sampai batas kota.

    Entah masih saja ada ragu dan khawatir di hatiku, meski Santi sudah sah menjadi tunanganku. Tapi aku relakan dia, aku tidak mau mengekangnya, aku biarkan dia mencari pengalaman hidup.

    Seminggu sekali Santi pulang ke rumah nya. Kadang aku jemput, kadang juga naik ojek. Karena rumah ku sangat dekat dengan jalan raya dan jalan ke rumahnya. Ibukupun sering melihat Santi pulang, dan na'asnya ibuku selalu melihat Santi berboncengan dengan ojek-ojek itu.

    Marahlah ibuku, melihat calon menantu nya itu berboncengan dengan pria lain yang bukan aku. Saking marahnya, menuntut pertunangan kami dibatalkan. Aku sempat melawan, namun sia-sia saja. Ibuku tetap tidak terima kalau aku tetap melanjutkan hubunganku dengan Sinta. Dan terpaksa pertunanganku dengan Santi kandas ditengah jalan.

    Akan tetapi, hubungan ku dengan Sinta baik-baik saja. Kami terus berhubungan, bahkan aku selalu tetap mengantar atau jemput Santi seperti biasa. Buat kami, meskipun pertunangan kami dibatalkan, kami akan tetap berniat menikah.

    Dan hari itu pun datang juga. Seorang pemuda yang entah dari mana datangnya, yang mengaku teman sepekerjaan Sinta datang dan melamar Sinta.

    Aku pertanyakan hubungan apa dengan pemuda itu, Sinta pun hanya menjawab sekedar teman, ia pun kaget sebab selama ini, pemuda itu tidak berhubungan baik dengan Sinta.

    Sedang, karena Sinta sudah tidak ada status apapun dengan ku atau yang lain, maka orang tuanya pun setuju saja lamaran pemuda itu.

    Karena Sinta masih mencintaiku, dua malam kami menghilang dari kampung kami. Lalu kami memutuskan untuk menjalin janji agar selalu selamanya. Tidak perduli pernikahan akan diselenggarakan esok hari, tidak perduli pinangan pemuda itu sudah disetujui prang tua Santi tujuh hari dari itu kami akan kabur jauh dari tempat tinggal kami.

    Namun, janji tinggal janji. Tujuh hari seperti yang dijanjikan Sinta tidak juga datang. Malah terdengar kabar ia dibawa pulang ke kampung pemuda yang sekarang resmi menjadi suami nya.

    Hati terasa teriris pedih dan pedih, hilang sudah harapan yang selama ini aku pupuk diatas senyum Santi. Musnah sudah cita-cita menjadi keluarga bahagia dengan dua orang anak yang lucu-lucu. Hancur sudah kota cinta yang aku dan Santi bangun di masa yang telah berlalu. Tinggallah aku sendiri menikmati kepedihan abadi dari pahitnya janji.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini