Sobat kayu mati sekalian, perkawinan dan perceraian dewasa ini seperti halnya mata keping logam coin. Kepercayaan akan sakralnya sebuah hubungan pernikahan tak lagi diagungkan di altar-altar sesembahan sebuah rumah tangga. Bahkan hanya macam mainan belaka.
Banyak kasus yang tercatat di departemen urusan agama. Bahkan, saking parahnya pemerintah ikut cambur aduk ke dalam urusan percintaan dua manusia ini. Dengan mengeluarkan berbagai aturan yang memperketat, supaya angka perceraian dalam rumah tangga menjadi semakin menciut.
Pentingnya Pendidikan Keluarga.
Jika mau bermusyrik ria, kita bisa membuat sebuah diagram yang menghitung jumlah perceraian di dasarkan pada latar belakang keadaan keluarga mereka. Ditarik misal, seorang bapak dan ibu yang bercerai maka kemungkinan 75% anak mereka saat sudah berkeluarga pun akan melakukan hal yang sama.
Jelas itu angka yang bisa diperdebatkan lagi, namun pendidikan keluarga sangat penting. Bilamana, keluarga inti juga memegang prinsip bahwa perceraian itu tidak dibenarkan. Maka akan menghasilkan pasangan muda untuk tunduk pada pengadatan dari orang tua nya, tentu juga peran sekitar juga mendukung serta.
Awal Bencana Di Sebuah Keluarga.
Sobat kayu mati sekalian, tentunya kita sebagai manusia yang mengedepankan rasa dan emosional serta penalaran yang lebih daripada sapi. Akan sangat berfikir ribuan kali, saat liat orang di luar keluarga kita sungguh mempesona, dan berhasrat untuk menikmati atau memiliki. Sebab itu titik awal sebuah keruwetan di dalam rumah tangga kita.
Akan sangat minimal, jika kita masih dikaruniai Tuhan sebuah kewarasan. Memutus mata rantai rumah tangga hanya karena kebosanan tanpa melihat pembanding di luar rumah. Bahkan, di era digital yang sosial media sangat besar merasuk ke kehidupan manusia, bibit pembandingan pasangan kita dengan foto full editan bisa subur jika tidak kita bentengi dengan iman di hati dan kepercayaan kepada pasangan kita tentunya.
Banyak ruang-ruang kosong yang bisa bukan hanya sekedar celah, untuk membuat keinginan mengelabui pasangan. Seperti di awal tadi, jika pendidikan keluarga sangat kokoh meracuni pola fikir kita sejak kecil. Maka, hal busuk demikian tidak akan terjadi. Dan open BO ala JAV pun tidak akan tumbuh subur di sekitar kita.
Selingkuh Rasa Teman.
Poin pentingnya di sebuah rumah tangga adalah kemampuan untuk selalu merasa nyaman ada di dekat pasangan kita. Bisa menjadi seorang adik, kakak, teman, kekasih bahkan orang tua dalam satu orang, yaitu pasangan kita. Pemahaman itu akan diperoleh jika kita benar-benar manusia yang normal dan berwatak manusia.
Teman sekantor yang biasa kita lihat, bisa saja menjadi harapan indah untuk dinikmati dan dimiliki. Maka, ada istilah selingkuh rasa teman. Yang tanpa malu mengikat hubungan tanpa ada pertalian. Hanya sekedar memuas nafsu belaka. Apa hal yang seperti itu, bukan sama dengan manusia setengah hewan? Coba, fikirkan dan rasakan sensasi menjadi manusia seutuhnya, saat teman kita merangsak masuk ke dalam bilik hati kita. Jangan sampai hewan dan manusia menjadi sama dalam satu tubuh kita sendiri.
Closing.
Sobat kayu mati sekalian, kita ditakdirkan menjadi manusia yang punya norma dan kewarasan. Jadi jangan sampai dihinggapi lalat-lalat busuk di hati kita. Sehingga, mencintai seseorang yang ditakdirkan Tuhan pada kita bisa seutuhnya sampai akhir nyawa diceraikan.

