Rintik hujan membasahi tanah yang kering. Sudah setengah windu ini hujan tidak selebat dulu, rumput untuk pakan ternak menjadi sangat susah didapat. Dan ternak menjadi sangat kurus kurus, sekurus yang menggembala mereka.
Hujan memang sangat pelit mengguyur, akan tetapi sungai sungai yang bening tetap mengalir. Menandakan bahwa rasa syukur kepada Tuhan sekalian alam, terus mengalir.
Siang itu Joko Geol, baru saja akan pulang dari sawah. Dan ia ingin menyempatkan diri untuk membersihkan tubuhnya di sungai yang tidak jauh dari sawahnya.
Sebagai petani ia tidak terlalu mengeluh tentang hujan, sebab sawahnya masih teraliri air dari sungai. Dan ia masih tetap bersyukur, tanaman yang ia tanam selalu membuahkan hasil yang maksimal. Selain lebat, padi atau kacang tanah nya, selalu memiliki berat lebih banyak dari yang lainnya, itu hal yang membuat teman-temannya sesama petani merasa iri.
Apa yang mereka tanam sama, benih juga kadang satu jenis serta penggarapan nya pun sama, tapi hasil yang diperoleh jauh berbeda. Kasak-kusuk yang beredar, Joko Geol memiliki jin yang bisa membuat hasil panennya berbeda dari yang lain.
Tapi hal yang menjadi gossip itu hanya sebatas keirian semata. Sebab Joko Geol hanya lebih telaten dan ulet dalam memelihara tanaman yang ia tanam.
Waktu itu, Joko Geol sudah sampai di pinggir sungai. Sayup-sayup ia mendengar suara yang mencurigakan dari sisi lain dari sungai itu. Biasanya jam-jam tengah hari, jarang sekali ada orang yang mandi di sungai dekat dengan sawahnya itu. Jikapun ada, itu juga ada di jauh aliran sungai itu.
Karena penasaran, Joko Geol mencari sumber suara. Sambil mengendap endap, ia menyusuri sungai. Dan semakin jelas suara yang ia dengar. Suara para perempuan yang sedang bermain-main di sungai itu.
Setidaknya ada lima perempuan cantik yang sedang bermain di sungai tersebut. Dengan penuh semangat Joko Geol mengintip dari balik celah bebatuan. Dan ia sangat terkesima dengan paras cantik dari perempuan-perempuan itu. Ia belum pernah melihat perempuan secantik mereka.
Singkat cerita, keesokan harinya pun Joko Geol kembali ke tempat dimana kemarin ia mengintip para gadis-gadis cantik sedang mandi di sungai. Namun alangkah terkejutnya, yang kemarin ada beberapa gadis. Kini hanya ada seorang dari mereka kemarin.
Karena hanya ada seorang gadis maka Joko Geol memberanikan diri untuk mendekati gadis cantik tersebut.
Tau ada yang mengintip dan datang mendekat gadis itu pun buru-buru ingin meninggalkan tempat itu. Tetapi Joko Geol berteriak yang menghentikan langkah dari gadis cantik itu.
Setelah dekat, Joko Geol meminta maaf jika kedatangannya membuat si gadis cantik ketakutan. Tapi ia bilang ia tidak mempunyai niat yang buruk, hanya ingin kenal, dan tahu dari manakah gadis cantik itu berasal, sebab Joko Geol baru saat itu bertemu dengan seorang gadis yang begitu membuat nya terpesona.
Si gadis cantik tersipu mendengar perkataan dari Joko Geol. Kemudian ia memperkenalkan diri bernama Wulan. Dan dari mana ia berasal, Wulan bilang itu rahasia. Setelah berkata begitu, Wulan yang masih tersipu malu begegas meninggalkan tempat tersebut.
Karena gerakan Wulan sangat cepat, hingga Joko Geol kehilangan Wulan di bebatuan yang berbentuk besar di pinggir sungai. Tapi meski begitu ia senang telah mengetahui nama dari gadis itu.
Sedangkan Wulan yang ternyata bukan sebangsa manusia, sambil terbang melintasi mega-mega dan awan, sambil tersenyum membayangkan wajah ganteng Joko Geol, dan tubuh yang tegap gagah membuat Wulan jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun ia malu, sebab belum pernah ia merasakan hal yang serupa.
Hari berikutnya, Joko Geol sudah berada di sungai tempat ia bertemu Wulan kemarin. Ia masih ingin mengobrol dengan Wulan, gadis yang sangat cantik itu. Akan tetapi Wulan tak datang hari itu. Teman-temannya pun tak ada.
Kejadian itu berulang ulang di hari hari berikutnya. Sampai Joko Geol merasa putus asa, sebab gantungan hatinya tidak juga menampakkan diri. Meski hanya tahu namanya, namun rasa rindu merasuki juga di hati nya.
Tepat sebulan setelah terakhir ia bertemu dengan Wulan, Joko Geol masih tetap mengunjungi sungai itu, berharap akan bertemu lagi dengan pujaaan hatinya. Dan hari itu, Wulan sendiri yang menunggu Joko Geol. Ia ingin mengatakan sesuatu pada pemuda manusia itu.
Setelah mereka ketemu, sebab rindu yang terlalu membumbung tinggi tak ada suara yang bisa keluar dari mulut mereka. Tapi, Wulan harus bilang ke Joko Geol, bahwasanya jika ia mau bertemu dengan dirinya, datanglah ke pelataran sebuah reruntuhan kuno yang kebetulan berada di ujung sawah. Setelah berkata demikian, Wulan memberikan selendangnya, dan berlalu dari hadapan Joko Geol.

