-->
  • Jelajahi

    Copyright © Intermezzo
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Ads

    Pondok di Tengah Hutan 3.0

    BlackEye
    Wednesday, March 23, 2022, March 23, 2022 WIB Last Updated 2022-03-23T23:57:53Z
    masukkan script iklan disini
    Di cerita sebelumnya aku sudah menceritakan saat aku berada dalam pondok di tengah hutan. Kemudian saat aku di dalam ruangan, pondok di tengah hutan tersebut, aku mengalami hal yang belum pernah aku alami. Aku melihat sesosok bayangan wajah wanita yang menyeramkan. Lantas aku tiba-tiba memasuki ruangan yang serba putih.

    Di ruangan yang lumayan cukup besar itu tak kujumpai siapapun, hanya aku sendiri. Setelah aku berkeliling di ruangan tersebut, sayup-sayup aku dengar suara musik yang arahnya sangat jauh. Musik yang asing aku dengar, namun dari rytme nya sangat familier. Sangat menyayat-nyayat hati. Samar-samar dalam aku mendengar musik itu, terdengar seperti alunan lagu Gloomy Sunday gubahan komposer Hongaria Rezs Seress, lagu kesukaan kakek buyut ku.

    Yah aku ingat lagu itu, dulu sering kakek mainkan di ruangannya, yang khusus tempat beliau mendengarkan koleksi musik nya, dan musik itu lebih sering kakek putar saat ibuku meninggalkan rumah, yang pergi entah kemana. Saat itu aku masih terlalu kecil untuk tau urusan orang dewasa. Dan hanya lagu itu yang aku ingat saat kepergian ibuku, tanpa tau kemana sekarang berada atau alasannya pergi meninggalkan kami.

    Sementara lagu itu semakin lama, semakin jelas memenuhi ruang dengarku. Dan benar dugaanku mulai itu lagu Gloomy Sunday. Lagu kesukaan kakek, aku tau rumors yang mengelilingi lagu itu, aku pernah baca artikel, menyebutkan bahwa di Hongaria, asal lagu Gloomy Sunday, terjadi banyak kejadian bunuh diri gara gara mendengar lagu ini. Sampai dikatakan pula sang komposer nya pun, mati lompat dari apartemen nya, tapi semua hanya rumors, benar atau tidak, semua buram.

    Setelah lagu itu berakhir, tiba-tiba saja ada asap putih pekat mengepul dari atas ruangan. Lantas dengan cepat memenuhi ruang tempat aku berdiri. Dari asap itu muncul sesosok wanita dengan warna kontras, hitam pekat, diperparah perawakannya agak membuatku jijik. Dari lidahnya yang panjang ia julurkan, dan dari luka di pipinya ada binatang entah ulat atau belatung.

    Kemudian ia berkata dengan suara serak, "Kau datang tak diundang, apa perlumu?". Tak langsung aku jawab, aku hanya diam memandangi sosok itu, lalu bukannya membuatku takut, namun begitu jijik.

    Kulitnya dan rambutnya yang berlendir itu membuat aku mau muntah. Serta matanya yang merah melotot ke arahku, benar-benar membuatku jengkel. Lama kami saling pandang, dan perutku mual dibuatnya. Lalu aku jawab pertanyaannya tadi, "Aku tidak tahu bagaimana aku bisa ada di sini, tadi aku ada di kamar mandi, lalu tiba-tiba ada di sini". Sosok itu tiba-tiba cekikikan tak jelas, tanpa menghiraukan jawaban ku.

    Dengan masih menatap ku tajam, kemudian kembali ia berkata dengan suara yang lebih berat, "Kau anak manusia, tak sudi aku melihat mu, pergi dari tempatku ini!". Setelah itu rasanya tubuhku terhempas ke langit langit ruangan. Dan entah bagaimana caranya, aku sudah ada di depan pondok. Badanku terasa berat dan sakit semua. Namun aku berusaha berdiri.

    Kuusap seluruh pakaian ku, sambil masih merasa bingung. Barusan itu apa dan bagaimana aku bisa mengalami hal yang di luar akal ini. Dengan langkah yang terseok-seok, karena badanku masih terasa lunglai, aku masuk ke dalam pondok. Kudapati ada sosok perempuan yang tadi aku lihat di kamar mandi.

    Kemudian aku berkata " Aku, tidak bermaksud mengganggu mu, tapi tolong jelaskan kepada ku, apa yang kau inginkan dari ku? ", kataku pada sosok perempuan itu. Dia tidak menjawab, hanya diam dan sedari tadi mengusap-usap tas ransel ku yang tadi aku letakkan di atas balai bambu. Sekali lagi aku bertanya, " Apa yang kau inginkan dari aku? ". Tas ransel itu, sebenarnya memiliki kisah. Aku dapat ransel itu dari ayahku, kata ayah itu satu-satunya benda yang ibu titipkan pada ayah yang saat aku sudah dewasa tas itu harus diberikan kepada ku, anaknya.

    Tidak ada yang istimewa dari tas ransel itu, namun tas yang berbahan kain tebal serta nyaman untuk berpergian jauh, karena ukurannya yang besar, cukup untuk menambah banyak barang. Aku suka bentuk dan ukuran nya. Terlebih itu satu-satunya barang pemberian ibu kepada ku.

    Kemudian dia menoleh ke arahku. Tatapan yang tajam mengingatkan ku pada sosok ibuku. Ibuku yang sudah lama meninggalkan ku saat aku masih kecil, dan hampir aku tidak mengingatnya, akan tetapi tatapan itu sangat melekat diingatan ku.

    Karena Ibuku meninggalkan saat aku masih kecil, sehingga sangat sedikit sekali memori bersama beliau. Dan aku tidak tahu apa yang menyebabkan beliau meninggalkan aku, atau kami sekeluarga. Ayahpun selalu berbelit-belit jika aku menanyakan tentang ibu, jadi aku bosan dan terbiasa tanpa ibu.

    Kemudian sosok itu, seperti terbang menghampiri ku yang sedari tadi terpaku di depan pintu. Kemudian dia setengah berbisik, " Jangan kau lanjutkan perjalananmu, nak. jika kau masih sayang dengan nyawamu. Pulanglah dan jangan pernah dekati hutan ini. Sebab, kejahatan akan selalu menghadang mu, tinggallah di pondok ini aku akan menjagamu dan selepas malam, kau harus segera pulang dan jangan pernah menginjakkan kaki ke tempat terkutuk ini ".

    Aku seperti tersihir, tak bisa berkata apa-apa. Ketika sorot mata kami bertemu, seperti magnet yang kuat dan tak mampu aku melawannya. " Aku hanya ingin bertemu dengan kakek ku, jangan suruh aku untuk mengurungkan niatku ", kalimat ku bergetar, entah aku merasa tak punya nyali dengan sorot mata itu. " Jangan kau dekati laki-laki itu! Dia lah yang menyebabkan aku menjadi seperti ini! "

    Berkata begitu sosok itu menghilang, meninggalkan aku dalam kebingungan. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku alami. Namun, sosok itu seperti lembut kepada ku, tidak seperti saat kami bertemu di kamar mandi. Aku mencoba menerka-nerka apa maksud kejadian-kejadian yang menimpaku dari sore hingga sekarang ini.

    Memang ada rasa yang tidak membolehkan ku untuk tinggal lama-lama di tempat ini. Kejadian ganjil pun, seolah berusaha mengusir ku. Akan tetapi, aku harus menepati janji ku untuk bertemu kakek. Seandainya aku boleh memilih, aku akan memilih untuk melanjutkan perjalanan ini, karena sudah hampir sedikit lagi aku sampai di rumah kakek. Tapi rasa yang ditimbulkan dari kejadian yang aku alami, seperti tidak mengijinkan aku.

    Kemudian entah kenapa aku merasakan rasa kantuk yang begitu hebat. Semakin aku melawan semakin aku tak berdaya melawan rasa kantuk ini. Dan akhirnya aku pasrah, sampai aku tertidur pulas.

    Dalam tidurku, aku bermimpi berada di tempat yang sepertinya aku sangat mengenalinya, namun dimana? Aku tidak bisa mengingat tempat itu. Padang rumput yang luas, ada aliran sungai yang airnya sangat jernih dan sejuk, tak ada satupun pepohonan yang tumbuh, sejauh mata memandang hanya hamparan hijau rerumputan yang dibelah oleh sungai. Angin yang berhembus pun sangat sepoi-sepoi. Menandakan musim semi sedang bergulir.

    Tempat itu seperti yang aku gambar sewaktu SD, dan dengan tema yang selalu aku buat adalah padang rumput ada sungai yang mengalir ditengah-tengahnya. Kemudian pikirku, aku kok ada di lukisan yang sering aku buat dulu, ini aneh pikirku. Semakin jauh aku melangkah dalam mimpi ku, hanya padang rumput dan anak sungai yang selalu mengikuti kemana aku melangkah.

    Ketika aku terbangun, pagi masih agak gelap. Aku lihat arlojiku menunjukkan pukul setengah enam. Aku bangun, dan merasakan badan ku sangat ringan, seperti tidak ada beban. Lalu aku teringat dengan ucapan wanita yang menyerupai ibuku, tadi malam  untuk tidak melanjutkan perjalanan ku. Aku bingung dengan apa yang ia bicarakan. Bahkan bukan itu saja, kejadian tadi malam yang tak pernah alami aku masih menggantung di otak ku.

    Aku bersihkan muka, kemudian ganti bajuku yang sudah agak lusuh. Setelah agak sedikit lebih terang. Aku melangkah keluar. Dengan perasaan yang masih gamang, aku mencoba melanjutkan perjalanan ku ke rumah kakek buyut ku, jika pun ada hal yang tidak baik baru aku akan bergegas pulang.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini