Diceritakan sebelumnya, aku sedang dalam perjalanan ke rumah kediaman kakek buyut ku dari bapak. Saat itu, aku sampai di sebuah pondok di tengah hutan, kemudian sudah diceritakan juga, aku berniat bermalam di pondok tersebut.
Kali ini aku lanjutkan ceritanya, seperti yang sebelumnya, aku berkali-kali mengelilingi pondok itu, namun tidak aku temui seorangpun, bahkan suara gaduh saat aku berada di dalam pondok pun hilang, hanya suara bintang malam yang itupun tidak begitu mengganggu.
Setelah aku berkeliling dan mengawasi pondok, aku berniat untuk kembali ke dalam pondok. Untuk berjaga-jaga, pintu sengaja aku tidak menutupnya. Kali ini, tidak ada suara yang berisik sama sekali, bahkan suara bintang malam pun tak terdengar. Suasana benar benar hening.
Kemudian, aku mengambil sisa bekal makanan yang aku bawa. Sebenarnya, aku tidak terlalu lapar. Namun hanya menghilangkan rasa gusar karena kejadian barusan. Jujur aku bukan tipe seorang penakut. Banyak kejadian yang pernah aku alami selama ini. Dari pernah kekunci di kamar mandi sekolah, padahal saat itu sudah jam pulang sekolah dan sekolahku terkenal angker, sebab dulunya bekas kantor militer, sebagai tempat eksekusi para tahanan perang, lantas sampai saat nenek dari ibuku meninggal, aku sendirian yang disuruh menjaga jasadnya semalaman, padahal nenek meninggal dengan tidak wajar.
Namun, dari semua itu baru kali ini aku mengalami hal yang benar-benar merasakan hal tak masuk akal ini, dan memang cuma suara yang bising, serta ketukan yang kencang pada pondok tersebut. Dan hal yang membuat aku agak menciut. Kemudian tiba tiba entah darimana asalnya, aku mendengar suara, "jika kamu takut maka kunyahlah makanan, itu akan membuatmu merasa tenang", justru itu tidak membuat aku tenang, tapi makin ketakutan aku dibuatnya.
Setelah aku membersihkan remah, sisa makanan yang aku makan. Aku berniat untuk membasuh muka. Akan tetapi, sebelum aku beranjak dari tempat dudukku, dari balik kamar mandi di pondok, terdengar suara yang mirip seorang perempuan merintih kesakitan. Karena keadaan yang benar-benar sudah gelap, karena pondok kakek ini hanya punya satu lampu minyak. Aku mengambil senter.
Saat sampai di kamar mandi, dengan keadaan lampu senter yang tetap menyala. Aku meneliti tiap sudut-sudutnya. Tapi tak ada siapapun atau apapun di ruangan itu. Tetapi suara rintihan perempuan tadi, kini menjadi kian jelas terdengar. Aku penasaran dari mananya suara itu berasal, aku tak menemukan sosoknya. Semakin lama semakin mengganggu ku.
Saat itu serasa ada hawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri, bebauan wangi bunga pun tercium. Aku yakin, aku tidak melihat apapun, hanya hawa dingin yang sangat menusuk serta wangi bunga. Dengan segala ketakutan yang tiba-tiba menyerang, aku beranikan diri untuk masuk ke kamar mandi yang tidak terlalu besar itu.
Betapa kagetnya, ketika dari dinding muncul wajah yang agak samar samar. Wajahnya tidak begitu jelas, namun aku merasa ia memandangku. Hanya diam berdiri mematung. Nafasku menjadi agak sesak, pandanganku agak memburam, meski senter yang ada di tangan tetap menyala.
Hampir satu menit atau bahkan lebih, aku dan bayangan wajah itu saling menatap. Dan selama itu mulutku terkunci. Setelah saling menatap itu, samar samar ia mulai menghilang. Aku sangat ingat wajah itu. Wajah seorang perempuan dengan mata dan mulutnya mengeluarkan darah. Memang tidak nampak jelas namun dari pandangan itu aku yakin adalah pandangan yang penuh kebencian.
Setelah bayangan itu menghilang barulah aku bisa bernafas dengan lega, pandangan ku pun menjadi jelas kembali. Namun tiba tiba, entah mengapa aku merasakan sangat lelah, seolah ada energi yang menghisap kekuatan ku, hingga aku terjatuh dari berdiri ku. Lama aku baring di depan mulut kamar mandi. Aku tak sanggup bergerak sedikitpun. Jika pernah merasakan rep-rep(tindihan), seperti itulah yang aku rasakan.
Badanku terasa berat, bernafas pun agak susah, pandanganku pun mulai mengabur lagi. Ingin rasanya aku teriak tapi sama sekali tidak bisa. Dalam pikiran ku yang mulai tak karuan, jika aku terus seperti ini, bisa bisa aku mati dibuatnya. Mendadak bayangan itu muncul lagi, namun kali ini seutuh badan dia keluar dari dinding kayu, kamar mandi.
Ia menghampiri ku yang sedari tadi terbaring lemas tak berdaya. Aku merasakan dinginnya membelai wajahku. Dia tak mengucapkan kata, hanya mengusap usap wajahku.
Senter yang sedari tadi menyala, mendadak mati. Hingga aku tak dapat melihat dan tak tau apa yang terjadi. Karena hanya gelap yang memenuhi mataku. Tapi usapan dingin yang tadi aku lihat dari sosok itu, masih aku rasakan. Dingin dan semakin dingin.
Antara sadar dan tidak, tiba tiba aku sudah berada di sebuah ruangan, yang aku tak mengenali ruangan apa itu. Ruangan itu sangat mencurigakan, dari dinding, langit ruangan dan lantai semua putih bersih. Dan selain itu ruangan itu terang benderang. Dan hawanya sangat sejuk dan dingin suasana di ruangan tersebut. Nyaman!

