-->
  • Jelajahi

    Copyright © Intermezzo
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Ads

    Pondok di Tengah Hutan 1.0

    BlackEye
    Sunday, March 20, 2022, March 20, 2022 WIB Last Updated 2022-03-22T04:26:33Z
    masukkan script iklan disini
    Perjalanan ku menyusuri bebatuan terasa berat. Sedang di depan pori pori. Aku tetap menerjang segala rintangan.

    Di balik perbukitan itu, masih ada danau yang harus aku seberangi. Kalau benar itu, sungguh perjalanan kaki ini begitu sangat menyiksa. Sejauh ini aku melihat plang tulisan, disana ada tulisan 32 km. Berarti aku sudah melalui jalan bebatuan ini sepanjang itu, tak terduga!

    Hari masih terik, karena aku berangkat dari ujung jalan tadi masih agak gelap. Sepanjang jalan ini tak kutemui seorangpun, bahkan pemburu hutan yang kadang memakai motor tak terlihat. Sungguh perjalanan yang menyiksa.

    Aku tak takut, jika berjalan siang begini. Namun jika hari sudah gelap, tak terbayang betapa pandangan terhalang hitam dan serba hitam. Karena pepohonan masih sangat rapat. Kalau pun takut, itu karena kehabisan bekal perjalanan. Khususnya air mineral, karena aku tidak begitu membawa banyak, takutnya malah membuat tambah berat perjalanan ini.

    Bicara soal bintang buas, jalan inilah yang paling aman. Meskipun jika dilihat di peta, agak melingkar jauh jika dibandingkan jalan alternatif. Ya, sebenarnya ada satu lagi jalan yang lebih pintas. Namun kata penduduk di daerah ini, sangat beresiko dan berbahaya. Jika kita berjalan kaki, maka kita akan menjadi incaran binatang buas, yang itu Macan, Harimau, bahkan Ular Berbisa. Dan diperparah, jika tidak tau arah, maka akan tersesat, karena tidak adanya penunjuk jalan. Dan tersesat di tengah hutan yang masih perawan seperti ini,  itu akan menjadi sangat menakutkan, buat orang-orang seperti aku yang tidak biasa bisa survive di alam bebas.

    Dan meskipun agak melingkar, jalan ini yang sangat aman buat orang seperti aku. Sebagai gambaran, jalan yang aku tempuh tak begitu menanjak, bahkan bisa dibilang landai. Hanya bebatuan kecil dan kerikil menghampar disepanjang jalan, agar saat musim hujan tiba, melewati jalan ini tidak licin, jika dilalui kendaraan bermotor.

    Sebenarnya sudah separuh lebih aku selesaikan. Tinggal separuh lagi yang lain. Namun, tantangan di depan masih begitu hebat. Aku harus melewati jalan yang monoton ini sebelum gelap, karena aku tak mau gelap gelapan dan tak tahu arah di tempat ini.

    Jujur, aku baru tiga kali melewati jalan sunyi ini, yang pertama aku berdua dengan kakek buyutku dari bapak. Meskipun sudah tua namun beliau masih sangat muda untuk rintangan seperti ini. Yang kedua, aku bersama dua orang teman, itu sangat tidak terasa karena sepanjang jalan, kita mengobrol hal hal yang menyenangkan, sedang terakhir beberapa bulan lalu, aku berdua menyusuri jalan setapak ini bersama bapak. 

    Tujuanku kali ini tak beda jauh dengan tujuan-tujuan ku sebelum saat melewati jalan yang terjal ini. Itu adalah mengunjungi kakek buyutku dari bapak, yang pertama kali mengenalkan aku jalan yang begitu aduhai ini. Kakek buyut ku adalah seorang yang melepaskan hal duniawi nya, dan menetap di tengah hutan belantara ini. Jika di tilik, kakek buyutku ini, orangnya agak nyentrik, tidak seperti orang pada umumnya.

    Kakek buyutku, memang sebenarnya punya hal yang lebih nyaman dibanding dengan hidup di tengah hutan lebat ini. Dia adalah seorang yang pernah memiliki perusahaan yang cukup besar. Yang sekarang diwariskannya kepada anak cucunya. Termasuk ke bapak, bapak dibaginya perusahaan induk, dari beberapa perusahaan lainnya.

    Jika menyoal materi, sebenarnya aku dan keluarga besar ku, tergolong berkecukupan. Tapi jika membahas kenapa aku atau siapapun dari keluarga dan kenalan kakek buyut ku, harus berjalan kaki untuk menyusuri jalan ke kediaman beliau. Itulah syaratnya. Entah bagaimana caranya, kakek buyut ku akan tahu jika kita mengendarai kendaraan untuk pergi ke rumah beliau.

    Dan malangnya, jika ketahuan tidak berjalan kaki, siapapun juga yang bertamu. Tidak akan beliau hiraukan bahwa menemui saja tidak akan. Maka dari itu, mobil aku parkir di ujung jalan raya tadi, di halaman rumah seorang penduduk di daerah pinggiran hutan belantara ini.

    Beliau yang aku titipkan mobil, sudah hapal betul kenapa selalu ada mobil mewah yang menitipkan ke tempatnya. Dan sebagai ungkapan terima kasih, aku memberikan uang kepada pemilik rumah itu.

    Singkat cerita, aku sudah berada di sebuah pondok dekat danau. Yang memang sengaja kakek buyut ku buat untuk siapapun yang ingin melepas lelah. Saat itu hari mulai gelap, satu satunya  penerangan di pondok ini hanyalah lampu minyak, yang kakek sediakan untuk jika kemalaman di tempat ini.

    Setelah aku membersihkan diri, aku nyalakan lampu minyak tersebut. Entah karena kecapekan atau karena apa, aku tidak begitu tau. Setelah aku nyalakan. Keadaan yang awalnya sepi, hanya binatang malam. Berubah menjadi ramai, seperti ramai orang di pasar. Sanyat ramai dan bahkan terlalu bising di telinga ku.

    Di pendengaran ku, suara ramai itu, persis di belakang pondok. Sebelumnya aku ceritakan letak dan gambaran pondok ini. Pondok ini pesis berhadapan dengan danau, tidak begitu besar memang, namun cukup jika hanya untuk menginap sementara. Terdapat tiga ruangan. Ruangan yang mirip ruang tamu, lalu ada kamar mandi yang airnya dari danau, kemudian ada kamar tidur yang cukup besar cukup untuk rebahan 10 -15 orang dewasa, tidak ada tempat tidur, hanya gelaran tikar pandan yang agak tebal.

    Pondok ini sendiri terbuat dari papan kayu yang cukup kuat, entah kayu apa yang dipakai, namun sangat kokoh dan kuat. Itulah gambaran pondok yang kakek buat, lanjut ke suara tadi. Yang awalnya aku beranggapan itu suara binatang malam, namun saking bisingnya. Aku mengira ada sekumpulan orang yang sedang berkumpul dan seperti mengadakan pesta atau sejenisnya.

    Awalnya sangat menggangguku, namun lama-kelamaan aku terbiasa juga. Sebenarnya aku penasaran ada apa di balik belakang pondok ini. Namun karena aku masih sibuk dengan barang barangku. Aku putuskan untuk melihatnya nanti selepas aku selesai berbenah.

    Suara itu masih sangat bising, setelah lima menit aku berbenah. Aku mencoba untuk keluar dan berharap itu suara dari orang-orang, aku masih selalu berbaik sangka saja. Meskipun dalam hati kecilku, rasanya tidak mungkin ada orang sebanyak itu berkumpul, sedang sedari tadi aku tak melihat sesiapapun dari perjalananku sampai ke pondok ini.

    Perlahan aku buka pintu depan, karena hanya ada satu pintu keluar di pondok ini. Aku membawa senter kecil perlengkapan yang biasa aku bawa kemana mana saat aku memutuskan untuk menginap. Sesampainya di luar, suara itu hampir hampir tidak terdengar, hanya binatang malam yang riuh namun tidak sebising yang aku dengar kan tadi.

    Aku masih berpikiran positif saja, mungkin karena aku memang terlalu lelah. Aku kemudian kembali ke dalam pondok. Tapi sampai di dalam, terdengar lagi suara riuh itu. Bahkan lebih mengganggu dari yang pertama tadi. Kemudian aku spontan teriak, " Aku gak mengganggu kalian, jadi tolong jangan ganggu aku lelah ". Aku sendiri bahkan heran kepada siapa aku berteriak. Semua terjadi spontanitas saja.

    Bukan mereda namun malah lebih ekstrim nya, pondok yang terbuat dari kayu itu, seperti ada yang mengetok getok. Dan dengan spontan lagi aku ambil pisau belati yang memang aku bawa dari rumah. Pikirku, jika itu adalah orang jahil atau ingin berbuat macam-macam, aku bisa melindungi diri. Kemudian aku meloncat keluar. Lagi lagi sunyi yang aku dapatkan. 

    Aku beranikan diri untuk melihat pondok dengan senter dan belati di tangan. Hampir empat atau lima kali aku berkeliling, dan aku tak pernah belajar apapun. 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini