Suara melengking disertai cacian dan makain, memecah keheningan malam. Suasana riuh itu berasal dari sebuah rumah yang cukup mewah di kampung Hilir Selatan. Rumah milik seorang janda kaya di daerah tersebut.
Janda itu bernama dr. Luis, yang tinggal bersama keponakan serta anaknya. dr. Luis ditinggal mati suaminya, sudah sepuluh tahun yang lalu. Dan Dewi si keponakan tinggal bersamanya sudah hampir enam tahun.
dr. Luis membuka praktek tidak jauh dari tempat tinggalnya ditemani oleh kedua asistennya. Setiap hari, tempat prakteknya selalu ramai dikunjungi oleh para pasien-pasiennya.
Sedangkan sang keponakan yang juga adalah janda beranak satu, cukup tinggal dan mengurusi anaknya. Ia tidak bekerja, dan hanya menggantungkan biaya hidup, dia dan anaknya, kepada tantenya itu.
Keributan yang terjadi malam itu, akhir-akhir ini makin sering terjadi. Entah persoalan kecil yang menjadi besar, ataupun memang karena ulah Dewi sang keponakan, yang selalu tidak sesuai dengan keinginan dr. Luis.
Seperti malam itu, Dewi pulang yang entah dari mana dalam keadaan mabuk. Sambil sempoyongan, ia meracau tak karuan sampai keluar kata-kata kasar dan ancaman pembunuhan terhadap tantenya itu.
Padahal, sang tante yaitu dr. Luis, sangat menyayangi keponakannya itu. Apa yang Dewi minta selalu dikasih. Sebab, dr. Luis yang janda itu mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah menikah dan tinggal di luar kota bersama keluarga kecilnya. Sehingga, dr. Luis menganggap Dewi sebagai anak kandungnya sendiri.
Dewi yang telah cerai dari suaminya, mempunyai banyak utang di luar. Karena saking sayangnya, semua utang ditanggung oleh dr. Luis. Tetapi, seperti tidak punya malu sedikitpun, Dewi selalu dan selalu menumpuk hutang-hutangnya, sedangkan yang membayar selalu dr. Luis. Padahal, dr. Luis sudah seringkali mengingatkan ponakannya itu.
Jika dihitung, hutang yang Dewi pakai mencapai ratusan juta. Namun parahnya semua uang-uang itu ia pergunakan untuk menyenangkan Deddy, pacar barunya. Deddy merupakan seorang pengangguran yang kerjaannya hanya mangkal di teminal kota mereka. Dia lebih muda umurnya daripada Dewi, dan segala yang Deddy mau ditiruti oleh Dewi, meskipun itu harus menghutang ke bank atau ke rentenir. Semua ia lakukan untuk menyenangkan hati Deddy kekasihnya itu.
Sementara, dr. Luis sangat tidak setuju hubungan mereka. Pernah satu kali Deddy main ke rumah dr. Luis, ia diusir mentah-mentah. Sehingga itulah yang menjadi percikan api kebencian Dewi kepada tante yang sangat menyayanginya itu.
Sampai kejadian malam itu Dewi menjadi makin liar saja. Meskipun dalam keadaan mabuk dan setengah sadar, ia memukul dr. Luis menggunakan batang besi. Karenanya dr. Luis pingsan seketika.
Karena Dewi dalam pengaruh alkohol, maka ia perpendapat bahwa tantenya itu meninggal bukan pingsan. Ditelepon lah Deddy kekasihnya itu, untuk membereskan tubuh dr. Luis. Mereka, Dewi dan Deddy berencana untuk membuang tubuh dr. Luis di sungai besar dekat terminal. Maka, tubuh lemas dr. Luis diangkatnya ke dalam mobil.
Sebenarnya, saat itu dr. Luis mulai siuman, namun naas baginya, saat Deddy membaringkan tubuhnya di bagasi mobil, tak sengaja kepalanya yang memar akibat pemukulan Dewi tadi, kebentok pintu bagasi, sehingga ia pingsan kembali.
Lantas, mobil yang mereka tunggangi, melaju dengan kecepatan tinggi. Membelah hawa dingin saat itu. Sesampainya di pinggir sungai, tanpa ragu sedikitpun, tubuh dr. Luis, mereka lemparkan begitu saja ke arus deras sungai Ceiling, di dekat terminal. Maka hanyutlah tubuh dr. Luis terbawa derasnya arus kala itu.
Tiga hari kemudian, barulah ditemukan jasad dr. Luis di tepian sungai. Dan menjadi berita heboh yang tersiar kemana-mana. Lantas dengan sigap polisi langsung mengidentifikasi mayat dr. Luis. Lalu tanpa perlu waktu lama, ditangkaplah Dewi serta kekasih nya Deddy.
Singkat cerita, Dewi dan Deddy dihukum, Dewi 20 tahun penjara untuk menebus kesalahannya. Sedangkan Deddy yang hanya membantu pembunuhan itu, diganjar 10 tahun.
Di dalam penjara, Dewi yang berada di lembaga pemasyarakatan khusus perempuan, merasa gusar beberapa kali, ia seperti melihat penampakan hantu kuntilanak di sel nya.
Teror yang dia terima, misalnya bunyi-bunyian tidak jelas, kadang ia sendirian melihat sekelebat bayangan putih tepat di pintu kamar nya, dan Dewi hanya bisa teriak-teriak tak karuan.
Karena, teman se-sel nya mengeluh kelakuan aneh Dewi, maka sipir pun memindahkan Dewi ke sel yang berbeda, yang ia tempati sendirian.
Namun, itulah yang menjadi akhir riwayat hidup Dewi. Sehari setelah pemindahan tersebut, ia ditemukan gantung diri menggunakan baju tahanan sebagai tali kekangnya. Dan hebohlah lapas tersebut, sampai diliput berbagai media.
Sebenarnya apa yang terjadi di sel tersebut, sehingga Dewi nekat bunuh diri? Hanya isi rok mini SPG rokok cap Gorilla yang tau.

