Namaku Lela, umurku sudah memasuki kepala empat. Suamiku adalah seorang Kepala Sekuriti di pabrik tebu di daerah kami, sedang kedua anak ku sudah mulai beranjak remaja.
Kehidupan rumah tangga kami bisa dibilang lumayan harmonis, meskipun jarang kami bisa berkumpul seperti keluarga lain. Suamiku yang jarang ada di rumah, mungkin hanya sabtu dan minggu, atau kadang hari libur itupun jika tidak ada jatah lembur.
Sedangkan anak-anak kami pun juga mempunyai kehidupan sendiri-sendiri. Yang pertama dia kuliah di kota sebelah, dan kost sebulan sekali pulang, sedang yang bungsu ia pun sudah jarang ada di rumah, entah main dengan temannya, atau mengerjakan tugas sekolah. Jadilah hanya aku dengan pembantu kami yang meninggali rumah dua lantai ini.
Namun untung saja aku mempunyai kesibukan di pasar, meski cuman dari pagi sampai siang, sudah menjadi hiburan buatku yang selalu merasa kesepian.
Aku jualan baju di pasar Puntingan, di lapak ku yang cukup lumayan luas aku memperkerjakan dua orang pembantu, Tina yang sudah ikut aku selama 6 tahun ini dan Putri yang baru tiga bulan lalu ia menggantikan pegawaiku yang lama.
Di umurku yang sudah bisa dibilang paruh baya ini, aku memang sudah tidak mampu untuk melayani pelanggan ku sendirian. Makanya aku membutuhkan Tina dan Putri untuk membantu ku melayani para pelanggan. Terlebih lagi jika sabtu dan minggu, banyak para pekerja pabrik di sekitaran pasar yang sering belanja pakaian di lapak ku.
Sedang kedua anakku, seperti nya enggan untuk meneruskan lapak ku di pasar ini. Setiap kali aku mengajak mereka untuk sekedar menemani ku jualan pun mereka ogah-ogahan. Jadilah, aku mempekerjakan Tina dan Putri.
Hubungan ku cukup baik dengan kedua pekerjaan ku itu. Tina yang juga sudah berkeluarga sering curhat masalah keluarga mereka, dan Putri yang masih lajang pun tak segan-segan cerita tentang masalah pribadinya. Sehingga kami seperti tidak ada batasan antara pegawai dan aku sebagai majikan mereka.
Pagi itu Putri berangkat diantar oleh seorang lelaki yang kemudian ia kenalkan sebagai pacarnya. Namun, entah kenapa aku seperti mengenal pria ini, dari wajahnya, tubuhnya yang tegap sungguh aku mengenal dia. Tapi entah dimana, dan kapan aku mengenal sosok pria yang seperti Luki pacarnya Putri ini.
Dan setelah perkenalan itu, aku merasa terhanyut mencari-cari dalam memori ku, sosok siapa yang sangat mirip dengan pacar pegawai ku itu. Namun, semakin aku mencoba mengingat semakin tidak dapat celah di ingatan ku, akan tetapi hati tidak bisa aku bohongi, jika aku sangat penasaran.
Meskipun penasaran ini sangat membuat ku tak nyaman sama sekali, tapi rasa malu ku untuk bertanya ke Putri begitu besar. Sebab, masak aku nanya-nanya tentang pacar karyawan ku. Tidak, pikirku.
Hari berganti hari, jadi lebih sering aku bertemu Luki, sebab hampir setiap hari Luki mengantarkan Putri ke pasar. Sampai suatu ketika, entah setan mana yang membisiki ku, untuk meruntuhkan gengsi ku. Sebab, pagi itu tiba-tiba saja aku kepikiran untuk membuat alasan minta tolong Luki mengantarkan ku ke rumah.
Pikirku, aku bisa tanya-tanya siapa dan apa yang membuat nya membuka ingatan ku pada sosok pria yang sangat mirip dengan Luki tersebut. Jarak dari pasar ke rumah memang lumayan dekat, sekitar 1km saja. Meski demikian, aku belum sempat bertanya-tanya, pikirku, nanti saja jika sampai di rumah, aku paksa dia buat mampir, dan aku tanya-tanya.
Sesampainya di rumah, aku merasa heran jam segini mobil suamiku terparkir di garasi, bukankah tadi dia sudah berangkat, pikirku. Dan hari itu adalah hari senin, sangat jarang suamiku ada di rumah, jam-jam segini.
Buru-buru aku minta turun, dan bilang terimakasih pada Luki. Sudah lupa aku pada rasa penasaran ku pada Luki, berganti penasaran ku pada mobil suami ku yang jam masih pagi sudah ada di garasi. Begitu banyak pikiran yang menyertaiku. Sakitkah, atau ada masalah kah, sampai suami ku pulang cepat.
Cepat-cepat aku masuk ke dalam rumah. Tanpa mempedulikan lagi Luki yang sudah mulai menjalankan motornya. Sesampainya di dalam rumah, suasana sepi. Lantas aku naik ke atas, di depan kamar aku tercekat. Suara erengan lirih, yang jelas itu bukan suara suamiku, itu jelas suara perempuan.
Dengan ragu-ragu tapi masih penuh penasaran, aku buka pintu kamar. Seperti ribuan volt tiba-tiba menghantam kepala ku. Suamiku yang aku cintai sepenuh hati, telanjang dan sedang meniduri Dewi pembantu kami.
Hilang semua kata-kata, amarah yang marah merasuki ku, aku ambil lampu meja kamar, aku pukulkan ke kepala suamiku. Setelah itu, aku tak sadar lagi, semua gelap dan gelap.
Pagi di akhir bulan Desember, aku dan Luki terbangun di sebuah kamar sebuah hotel di kawasan pantai Kuta, Bali. Tidak lupa kecupan manis aku torehkan di dada bidang suami baru ku itu, kemudian aku peluk tubuh telanjang nya yang membidang sambil mengingat bahwa sudah seminggu lebih kami bulan madu, dan selalu memadu kasih tanpa kenal waktu.

