-->
  • Jelajahi

    Copyright © Intermezzo
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Ads

    Lucy

    john_aripe
    Saturday, January 22, 2022, January 22, 2022 WIB Last Updated 2022-03-18T05:37:31Z
    masukkan script iklan disini

    Bel istirahat pertama berbunyi, buru-buru aku ke ruang perpus. Ada PR matematika yang belum aku kerjakan.

    Saking buru-buru nya aku tabrakan dengan cewek kelas sebelah. 'punya mata gak dipake', kalimat cetusnya. Belum juga aku menjawab, 'ngapain liat-liat? gak pernah liat cewek cantik ya? dasar kikuk! pergi sana bikin gak mood aja'.

    Memang aku sering dipanggil di sekolah dengan sebutan kikuk. Bukan hanya di kelas ku, tapi di kelas-kelas sebelah juga gitu. Sama seperti barusan Rini, cewek yang barusan bertabrakan dengan ku. Dia pun juga ikutan bilang aku kikuk.

    Sesebutan itu tersemat sebelum aku masuk ke kelas satu, tepatnya saat upacara penerimaan siswa baru. Saat itu aku yang berdiri di barisan paling depan suruh maju, untuk memberikan kesan pertama diterima sebagai siswa baru di sekolah ini. Karena grogi dan tidak terbiasa ngomong di depan banyak orang, maka bicaraku terbata-bata, seperti orang kikuk. Dari situlah sebutan itu menempel sampai sekarang aku ada di kelas dua.

    Meskipun demikian, aku juga bukan seorang siswa yang minder dan jadi bahan bully an di sekolah. Karena mungkin nilai-nilaiku yang bisa membuat aku jadi sedikit beruntung dan ada beberapa perlombaan sekolah yang pernah aku wakili. Jadi meskipun dulu terkenal kikuk, aku bisa membalikkan semua dengan prestasi akademis ku, dan sebutan itu malah menjadikan bahan becandaan di antara teman-teman ku.

    Sebelum aku dikenal dengan prestasi ku, aku tidak punya teman, dan jadi sasaran empuk untuk pembullyan, selain verbal juga mengarah ke fisik, namun setelah aku punya banyak teman, pembullyan itu berangsur berkurang dan bahkan sekarang mereka yang dulu membullyku, malah menjadi teman baik.

    Hari itu, PR matematika ku ketinggalan, jadinya aku mengerjakan ulang di perpus. Ruangan yang biasanya sepi, karena jarang ada anak yang masuk, tetapi hari itu jadi lumayan agak gaduh.

    Ada seorang siswi pindahan dari luar negeri, yang sengaja atau tidak, aku gak tau. Bikin acara perkenalan di perpus. Sungguh aneh, pikirku.

    Setelah selesai mengerjakan, niatku pengen ke kantin sekolah. Eh tiba-tiba teman sebangku ku menarik ku ke kerumunan anak-anak yang lagi pada kenalan tadi. 'bintang iklan sampo, masak gak mau kenalan seh kamu, ayo' ajaknya sambil masih menarik tangan ku.

    Namanya Lucy, pindahan dari Australia katanya. Aku pikir bule, ternyata orang sini yang pernah tinggal di Australia. Tapi dibanding Rini yang tadi tabrakan dengan ku, yang biasa disebut-sebut sebagai bidadari kelas dua B, masih cantikan Lucy seh, pikirku.

    Tidak terasa bel pulang pun tiba. Aku yang punya jadwal piket pun jadi pulang paling terakhir. Dan setelah menyelesaikan tugas beres-beres kelas aku lantas pulang.

    Sampai di pelataran parkir sekolah, sayup-sayup aku mendengar suara sesenggukan. Aku tengok kanan kiri, sudah sepi tak ada siapa-siapa. Karena parkir sekolah ini agak luas, jadi aku berkeliling penasaran sesenggukan siapakah itu.

    Ternyata, Lucy anak baru di kelas sebelah. Aku dekatin dan aku tanya ada apa, kemudian ia hanya geleng-geleng. Aku bilang ' kalau tidak ada apa-apa kenapa sendirian dan kenapa baju kamu sobek? Siapa yang ngelakuin?' Lucy hanya diam, ditatapnya aku dengan penuh teliti.

    'aku boleh pinjem jaket kamu?' ucap Lucy. Kebetulan hari itu aku pakai jaket, karena tadi pagi udara sangat dingin. Lantas aku lepas dan aku kasihin jaketku ke Lucy.

    Kasihan sebenarnya, baju OSIS nya sobek di beberapa bagian, memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya. Namun karena Lucy gak mau cerita, ya sudah aku nggak berani tanya-tanya lagi.

    'aku bawa motor, mau aku antar kamu pulang?' Hanya dijawab dengan gelengan kepala. Aku bilang lagi, kalau sudah sore seperti ini, angkutan umum sudah susah apalagi bis sekolah juga sudah tidak ada. 'lebih baik kamu, aku anterin' ditatapnya sekali lagi aku dengan teliti.

    'kamu bukan orang jahat kan?' aku hanya ketawa melihat ekspresi wajah Lucy yang keliatan imut itu. 'kalau aku jahat, sudah aku makan kamu idup-idup' jawab ku sambil ketawa 'dah ayo' aku raih tangan nya.

    Untung rumah kami searah, dan ternyata rumah Lucy juga tidak begitu jauh dari rumah ku.

    Entahlah, aku seperti tersihir. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa diam, tak sepatah katapun yang keluar dari bibirku. Begitupun Lucy, dari awal duduk di jok motor ku, tidak berkata apapun. Kami hanya diam terlarut dalam alam pikiran masing-masing.

    Rumah besar berpendapa dan cat biru dengan aksen ukiran khas Jawa, serta pagar setinggi satu meter, menyimpulkan rumah yang keren, pikirku. Serta pohon-pohon membuat asri suasananya. Dan disinilah Lucy tinggal bersama keluarganya.

    'akan aku kembalikan jaketmu besok' ucapnya pendek. Aku hanya tersenyum mengiyakan. Saat aku mau menyalakan motor ku, dari dalam seorang ibu-ibu membukakan pagar lantas, 'kamu teman Lucy kan, ayo mampir dulu' 'tidak terima kasih tante, ini sudah sore nanti takut dicariin bapak saya' sambil tersenyum aku menjawab.

    'kalau gitu, telpon bapakmu nak, biar tante yang minta izin' 'waduh lain kali saja tante' jawab ku. 'sudahlah, telpon saja bapakmu biar ibuku yang bilang, atau kamu tidak sudi main ke rumah ku?' ajak Lucy yang seketika berubah wajah nya menjadi berseri-seri, tidak seperti tadi yang dirundung sedih.

    'baiklah kalau begitu, tante' sampil merogoh hape ku, dan kemudian ibu Lucy minta izin ke bapak.

    Suasana asri dan pepohonan yang rindang membuat adem. Perabotan rumah yang rata-rata terbuat dari kayu sungguh terkesan rumah yang tidak biasa. Setelah dipersilahkan masuk ke pendapa rumah, ibu Lucy pun bertanya sekedar basa-basi, sembari menghidangkan air teh dan jajan pasar. Sedang Lucy pamit mau ganti baju.

    Dalam hatiku, benar-benar keluarga Jawa meskipun sudah lama tinggal di Australia, cerita ibunya. Namun, kesan luar negeri itu hilang di rumah ini.

    'Lucy itu, jarang ada teman yang dia bawa. Jadi nak Radit ini ibu paksa buat mampir, jadi maaf jika tadi agak memaksa, nak' sambil tersenyum ibu Lucy mencerita. 'tidak masalah, bu. Cuman tadi kalau tidak izin dulu saya pasti kena marah bapak'.

    Setelah Lucy keluar dari rumah utama, ibunya pun pamit ke dalam. 'kamu cerita apa ke ibuku? tidak kamu ceritain kejadian tadi di sekolah kan?' tanya Lucy. 'tidak, ibumu hanya tanya-tanya tentang aku'

    'kamu mau tau kenapa baju ku, dan tasku rusak?' tanya Lucy. 'aku tidak mau ikut campur urusan orang lain, tapi jika kamu mau ceritain kejadian mu itu, aku senang sekali mendengarnya' jawabku terbata-bata. Aku bingung mau jawab apa, takut salah.

    'kamu kenal Rini? Kelas dua B?' 'semua juga tau, dia kan yang suka dijuluki si Ratu' jawabku. Lantas Lucy bercerita 'dia itu jahat, tapi lihat saja besok, akan aku balas apa yang dia lakukan. Tadi dia dan gang nya, membully aku di parkiran, dia iri karena dia pikir aku merebut perhatian anak-anak. Memang seh, tadi jadi agak berlebihan, semua ingin kenalan dengan ku, jadi mungkin itu yang tidak membuat Rini suka pada ku'

    Pantas saja, tadi sewaktu tabrakan dengan ku, Rini sangat sewot mungkin dia pikir aku juga mau kenalan sama Lucy di perpus, pikirku.

    'lantas tidak mau kamu laporkan kejadian tadi ke guru?' tanyaku. 'buat apa? malah akan semakin panas Rini membully ku, aku sudah biasa menghadapi tingkah kekanakan seperti ini di sekolah ku yang dulu, dia belum tau saja aku itu seperti apa, tadi itu aku masih menghargainya, tapi jika besok masih dia lanjutkan akan aku balas yang lebih menyakitkan'

    Mendadak suasana yang adem dan wajah imut Lucy berubah menjadi memerah. Aku sempat kaget dengan perubahan-perubahan yang ditujukan Lucy. Beberapa waktu lalu, seperti orang yang teraniaya, lantas berubah lagi menjadi berseri-seri sewaktu berjumpa ibunya, lantas sekarang berapi-api penuh kebencian. Tapi aku masih sungkan untuk bertanya lebih lanjut.

    Setelah kami mengobrol dan melupakan kejadian yang menimpa Lucy, aku pun pamit untuk pulang. Di depan gerbang rumahnya Lucy sempat berkata 'terimakasih untuk hari ini, kamu sangat mengasyikkan' aku jawab dengan tersenyum, meskipun dalam hati ada rasa kekhawatiran yang entah apa itu.

    Kemudian hari berikutnya, aku agak kesiangan berangkat sekolah. Di hape ku banyak catatan panggilan tak terjawab dari nomor Lucy. Karena terburu-buru tak sempat aku telpon balik dia. Aku pikir nanti saja di sekolah aku akan minta maaf.

    Sesampainya di depan gerbang sekolah, bel masuk kelas sudah berbunyi, untung saja gerbang belum di kunci, jadi aku masih bisa memasukkan motor ku. Sampai di parkiran, betapa terkejutnya aku. Aku lihat Lucy menonjok muka Rini. Sambil tersungkur dan menangis Rini minta ampun ke Lucy.

    'kalau kamu macam-macam lagi, aku kuliti wajah yang selama ini dijuluki Ratu itu, paham?' kata Lucy sambil menjambak rambut Rini. Aku hanya bisa bengong melihat kejadian itu semua, sungguh Lucy adalah cewek yang tidak bisa ditebak.

    'hey kamu' hardik Lucy pada ku, 'punya handphone itu untuk apa, hah?? Aku telpon berulang kali tidak kamu angkat', 'ma..maaf tadi aku kesiangan' ucapku terbata-bata, masih belum hilang rasa kagetku melihat kejadian ini.

    'kamu lihatkan, Ratu yang tersungkur itu? Jika nanti ada guru yang mempermasalahkan ini, hanya kamu dan Rini yang akan aku bantai, paham!' hardik Lucy pada ku yang masih mematung. Setelah ngomong seperti itu, ditariknya tangan ku dan masuk ke sekolah.

    Saat jam istirahat, aku dan Lucy sama-sama ke perpus. Sampil ketawa-ketawa Lucy bilang, 'kalau kamu di bully, lawan sekuat tenagamu. Jangan diam atau takut'. Pikirku, padahal kemarin dia sendiri yang diem dan nangis-nangis.



    Notes:
    Stop pem-bully-an! Jangan anggap remeh, karena sudah banyak korbannya, dari luka-luka sampai hilang nyawa. 

    Hanya ada satu kata LAWAN!
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini