LoHa.. Halllo.. kali ini aku berbagi cerita tentang kenapa aku pilih vape atau vapor daripada rokok konfensonal. Dan sedikit berbagi kisah dalam vapelife-ku
Sudah banyak yang membahas ini, dan sudah banyak pula yang mengemukakan pengalaman nya, kenapa lebih memilih berganti, ke vape. Karena, aku lebih suka menyebutnya berganti daripada berhenti merokok. Maka, aku akan jelaskan ke kalian apa yang aku alami setelah aku berganti.
Pertama-tama, aku mengenal vape itu dari tahun 2014. Lebih tepatnya, setelah ada seorang teman mengenalkan aku dunia per-'kebul' an. Saat itu, memang sudah banyak yang berganti dari rokok konfensonal ke rokok elektrik. Namun, vapestore belum menjamur seperti sekarang. Akan sangat susah mencari kelengkapan, misalnya kawat buat coiling atau bahkan liquid. Apa lagi di tempatku yang adalah kota kecil, sangat sulit bahkan tidak ada, jadi saat belanja harus rela untuk ke kota sebelah, untuk mendapatkan kelengkapan vaping.
Jadi, saat itu meski sudah mulai nge-vape tp masih sering merokok rokok tembakau asli. Makanya belum benar - benar jadi vape lover.
Namun, zaman pun berubah, saat 2016. Vape mulai ramai dibicarakan dan ramai orang beralih ke vape. Dan sesuai hukum rimba ekonomi dimana ada permintaan akan ada pasar. Awalnya liquid tidak bercukai, menjadi bercukai, karena banyak perusahaan rokok menuntut pemerintah, untuk melegalkan dengan memberi cukai pada produk turunan dari tembakau tersebut.
Mungkin kapan - kapan aku bahas tentang liquid, namun di postingan ini, aku hanya pengen membagi pengalaman tentang seputar aku nge-vape.
Dulu aku, hanya memakai rokok elektrik. Yang bentuknya stick, macam pena. Adapun clound nya tipis, sama persis dengan rokok tembakau. Dan flavor dari liquid nya juga masih belum sebanyak sekarang. Dulu saat aku awal make rokok elektrik, hanya ada rasa buah - buahan, seperti aroma nanas, aroma apel, aroma mangga. Dan cukup mahal untuk saat itu 15ml, dibandrol dengan harga rp 80.000 per botol. Dan rokok elektrik nya rp 350. 000, bisa untuk beli mod sekarang. Tp saat itu, menjadi hal yang lumrah.
Itulah perkenalan ku pada rokok elektrik. Setelah itu, mulai beli mod bekas dengan rda minjem sama temen. Dari situlah mulai ngrasa enak nya nge vape.
Nah, setelah perkenalan aku dengan vape, mungkin ada baiknya, jika aku mulai menceritakan pengalaman ku kenapa aku ganti ke vape dari kebiasaan menghisap rokok tembakau.
Sebelum nya, aku akan menggaris bawahi, kalau vape hanya untuk dikonsumsi 18+, sama seperti rokok tembakau. Dan aku harus tekankan juga, kalu vape tidak lebih sehat, tapi lebih aman dikonsumsi daripada rokok tembakau. Pertama, karena rokok tembakau mengandung TAR yang seperti dicatat National Cancer Institute Amerika Serikat, merupakan zat kimia yang dihasilkan saat tembakau dibakar. Ia mengandung sebagian besar penyebab kanker dan bahan kimia berbahaya lainnya dalam asap tembakau. Ketika asap rokok dihirup, tar dapat membentuk lapisan lengket di bagian dalam paru-paru. Sedang vape hanya mengandung nicotine yang kita bisa memilih kadarnya dalam setiap liquid, dari 3mg - 50mg. Namun, aku juga tidak membenarkan, jika nicotine tidak bahaya pada tubuh, karena sama-sama barang kimia, maka nicotine juga tidak baik dikonsumsi. Selain karena mengandung zat adektif nekotine yang dikonsumsi secara berlebih akan menimbulkan keracunan. Lantas selain dari tidak terkandung nya TAR dalam liquid vape, pernafasan serta indra penciuman ku, rasanya lebih tajam dibanding saat mengkonsumsi rokok tembakau. Dan masih banyak lagi, yang mungkin tidak bisa aku sebutkan satu - satu. Intinya, vape tidak menyehatkan namun lebih baik sedikit daripada merokok dengan rokok konfensonal.
Di postingan ini, aku juga ingin berbagi cerita device yang aku pakai, dari awal sampai sekarang. Mungkin akan terasa aku mengiklankan sebuah produk, tapi di sini, aku tidak dibayar dari produsen vape yang aku pakai. Aku hanya murni menceritakan apa yang aku rasakan.
Di atas aku sudah sebutkan, awal aku merokok elektrik saat tahun 2014/2015 awal adalah menggunakan rokok elektrik stick, merk nya aku lupa, karena setelah aku gak pake aku buang.
Setelah itu aku pake rincoe bekas, yang aku beli dari temen. Namun seiring waktu, aku merasa gak begitu nyaman, karna bodi nya yang agak gede, jadi kurang enak dibawa kemana-mana. Musti pake tas pinggang. Lantas aku beralih ke pod, pertama aku make pod itu vladin stick, selain bentuknya nyaman dikantong, karena pengisian liquid lewat tank, maka tidak ribet bawa kemana-mana liquid nya. Namun karena si vladin, asep nya tipis hampir mirip kayak rokok, karena dia pod. Aku beli loki pod. Dia punya dua tipe puff. Soft dan hard. Jadi, bisa diatur asep nya mau dikit atau banyak.
Dan beberapa bulan lalu, jadi 'moncer' vape tipe aio atau all in one, bisa dibilang pod tapi mod. Di varian ini, kita bisa make liquid freebase atau saltnic, mungkin kapan-kapan aku pengen cerita bedanya antara dua jenis liquid tersebut, karena emang di postingan ini aku hanya pengen berbagi cerita tentang vape. AIO pertama ku adalah voopoo vinci X, dengan batre eksternal, kemudian voopoo vinci air, mungkin nanti di postingan lain aku ceritakan kenapa aku punya dua vinci, setelah voopoo vinci, aku beli lagi produk dari manto aio.
Mungkin kedepan aku akan cerita lebih banyak tentang aio yang aku pakai, kekurangan atau kelebihan masing-masing, trik dan tips nya ala aku seh, hehe..
Mungkin sekian dulu, ceritaku hari ini. Sambung lagi nanti, dengan membahas tentang aio yang aku pake atau liquid yang dah aku coba, so.. jika mungkin ada yang penasaran, jangan sungkan singgah atau kita berdiskusi di komentar.
Jangan lupa tersenyum hari ini, dan salam satu asap 💨💨

