Hey ucrakers, jumpa lagi. Kali ini sudah datang sebuah email dari seseorang yang mengaku bernama Dui. Dan kalau ada email gini artinya kita akan masuk ke rubrik curhat.
Okey, tanpa banyak basi basi lagi kita langsung simak ceritanya. Dan sebelumnya aku tetap ingatkan tetap jaga jarak dan jangan lupa cuci itunya sebelum tidur. Oh ya satu lagi, kami hanya mengedit sesuai konten yang ada di rubrik ini atas persetujuan dari yang punya cerita, dan buat kamu yang mau curhat juga boleh, tinggal kontak ke email redaksi. Selamat menikmati.
Perkenalkan namaku Dui, aku adalah mahasiswi dari sebuah Universitas di Bandung. Meski aku kuliah di Bandung, namun aku bukan asli Bandung. Di Bandung aku tinggal di rumah salah satu keluarga dari ibu.
Namun menginjak semester ketiga , aku pindah ke kost putri. Karena keluarga yang aku tumpangi ini, sedang dilanda prahara. Om Rudi yang adiknya ibu nikah lagi dengan seorang wanita teman dari istrinya, dan itu yang membuat rumah tangga Om Rudi jadi genting.
Setelah pindah kost, aku menjalankan rutinitas yang normal seperti biasa. Kost yang berada di tengah perkampungan ini, membuat aku jadi betah. Sebab, karena di perkampungan jadi masyarakat nya lebih friendly. Berbeda dengan rumah yang sebelumnya, rumah Om Rudi terletak di area Real estate. Yang warganya sendiri jarang yang kenal.
Beginilah suasana tempat tinggal ku sekarang. Kamar yang lumayan besar untuk satu orang, tempat mandi di dalam. Dan setiap hari ibu kost ngasih jatah makan dua kali, pagi dan sore. Sebagai layanan yang diberikan setelah kita membayar biaya kost.
Karena kost putri, maka penghuninya semua putri. Cuma ada tiga lelaki di tempatku. Karena rumah pemilik kost dan tempat kost adalah satu bangunan, maka ketiga pria itu, Bapak kost, dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Setahu ku, Bapak kost melarang jika ada lelaki yang masuk ke tempat kost nya. Tapi entah gimana cara nya, maling itu lebih pintar.
Ada salah satu penghuni kost, sebut saja kak Mila. Dia lah yang suka curi curi masukin pacarnya ke kamar dia. Itu sudah menjadi rahasia umum. Pernah katanya, sewaktu aku belum pindah kesini. Kak Mila ditegur oleh Bapak Kost, namun ya tetap saja ngulangin lagi dan lagi. Dan katanya lagi sudah hampir diusir juga, namun karena kak Mila pandai mengambil hati ibu kost, gak kejadian sampai sekarang.
Sebenarnya, yang pengen aku ceritakan disini bukan karena kebadungan kak Mila. Namun, ada sesuatu yang ganjil yang selalu ingin aku tahu. Sebelum aku pindah dulu, sempat aku diperingatkan oleh seorang warga. Agar jangan tinggal di kost ini, Angker katanya.
Namun, aku penasaran dengan apa yang ada, sebab jujur saja aku ngerasa nyaman tinggal di kost ini dari awal pindah. Entah sugesti atau apa tapi aku merasa pernah menempati tempat ini jauh sebelum ini. Padahal aku dari kota yang jauh dari Bandung, dan ke tempat ini pun baru saja.
Kenyamanan itu kalau digambarkan, seperti kamu sudah pernah menempati tempat ini lama. Dan sudah merasa akrab dengan suasananya. Dan begitu juga yang dirasakan teman di kamar sebelah, Ika namanya. Ika juga mengaku merasakan hal serupa, dan perlu diketahui Ika juga bukan asli Bandung. Namun suasana rumah ini membuat nyaman.
Itu sebabnya aku selalu mencari tahu apa yang terjadi, sebab kalau dilihat lihat, dari bangunan juga tidak ada yang istimewa. Semua biasa saja.
Dan satu lagi, ada kisah yang itu belum terkonfirmasi oleh penghuni kost apalagi pemilik kost. Kamar yang aku tinggali ini, katanya dulu pernah dijadikan tempat bunuh diri. Mereka selalu menghindar jika aku menanyakan hal tersebut. Kata Ika, tetangga samping kamarku, " jika kamu merasa gak nyaman, atau gimana gimana. Pindah aja, tapi kalau kamu ngrasa nyaman dan merasa seperti rumah sendiri, ya udah pertahanin ajah. Orang murah ini kan, coba kalau kamu ke tempat lain, kamu gak bakalan dapat seperti yang kamu dapetin di sini ".
Benar juga seh apa yang Ika katakan, tapi aku adalah tipe orang yang suka penasaran. Sampai suatu ketika, ada suara berisik yang terdengar di balik langit langit kamar. Seperti tikus yang berkelahi, karena aku mikir itu tikus jadi aku diemin saja. Sampai Ika mengetuk pintu kamar, dan teriak memanggil namaku. Dengan malas, aku bukain pintu.
Dari balik pintu, Ika dengan wajah cemasnya bertanya, " Kamu gak papa wi? ", Aku jawab, " Gak ada apa apa, emang kenapa? ", "Loh bukannya tadi kamu minta tolong? ", Jawabku dengan bingung " minta tolong apaan, orang dari tadi aku dengerin musik sambil tiduran kok ".
Masih dengan wajah cemas Ika masuk ke kamarku, di teliti entah apa yang dia cari. " Beneran wi, tadi aku dengar kamu minta tolong, makanya aku buru buru kemari ". Kemudian aku menjelaskan tadi emang ada suara berisik dari langit kamar, tapi itu tikus, namun Ika masih juga gak percaya.
Esok harinya, Bapak kost memeriksa langit lagit kamarku. Dan dia menemukan ada wayang golek, yang entah dari mana asalnya. Wayang golek dengan figur Dewi Shinta itu bentuknya agak sedikit menyeramkan. Dari mulutnya ada bercak darah, dan pakaian nya agak lusuh.
Setelah itu, disimpanlah golek itu, entah buat apa aku juga gak tau. Dan ini membuat ku makin penasaran pada tempat ini. Aku memang bukan orang yang terlalu percaya dengan tahayul, namun aku punya seorang teman kecil yang katanya bisa berkomunikasi dengan hal hal di luar akal.
Hari itu hari Minggu, teman ku datang dari kampung. Aku sengaja memintanya untuk datang ke Bandung, dan ke kost ku. Kost ini memang bisa menerima tamu atau keluarga yang sama-sama perempuan. Jadi karena teman ku ini juga perempuan maka dia bisa tinggal di kamarku.
Nama temanku, panggil saja Fitri. Fitri adalah teman sebayaku, dari kecil kami selalu bersama. Karena rumah kami di kampung memang berdekatan. Aku dulu selalu menganggap dia aneh, karena sering ngomong sendiri, ketawa sendiri, dan anehnya dia hanya mau berteman dengan ku saja.
Awalnya Fitri ketika masuk ke kamarku, tutup hidung. Aku agak tersinggung seh, meskipun aku tau itulah 'kemampuannya' mampu mencium hal yang tidak bisa dicium oleh orang biasa. Kemudian dia bilang, "Kasian" sampai beberapa kali. "Ui, kamu gak masalah tidur di kamar ini?" Aku cuma menggelengkan kepalaku.
" Ya sudah, nanti aku bantu ", mulailah Fitri berbicara sendiri. Aku cuma bisa liat tanpa tahu apa yang sedang dia lakukan. Kemudian aku kunci pintu kamarku, sesuai pinta Fitri. Dan dia menyuruhku untuk duduk bersila di lantai seperti yang ia lakukan.
Karena curhat ini terlalu panjang, maka kami dari redaksi membagi menjadi beberapa bagian. Jadi nantikan sambungan cerita si Dui selanjutnya.
Dan seperti biasa, apapun postingan. Tak perduli nyambung atau tidak! Aku tetap pamerin hasil ku ngegambar jelek buat kalian, dan ini penampakannya!
Dan pastiin kalian mendownload gambar diatas hanya DISINI (shutterstock), untuk sekedar mensupport kami, terimakasih, my friend!


