-->
  • Jelajahi

    Copyright © Intermezzo
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Ads

    Kisah Seekor Burung Merpati

    BlackEye
    Monday, April 11, 2022, April 11, 2022 WIB Last Updated 2022-04-10T23:58:53Z
    masukkan script iklan disini

    Aku adalah hal yang sering manusia gambarkan sebagai gambaran tentang kesetiaan dan kepercayaan dalam hubungan cinta mereka. Meskipun tidak selalu hal yang aku miliki, mereka ketahui pasti. Karena sengaja mereka mainkan perasaan ku, untuk membuat pertaruhan. Dan lucunya, jika kami memegang kesetiaan, mereka yang dapat juaranya.

    Aku adalah merpati jantan, yang hidup liar di alam bebas. Meskipun dahulu, aku pernah dijadikan sebagai 'barang mainan' oleh manusia, namun aku memilih untuk pergi sebelum aku terdidik sebagai 'barang mainan' mereka. Dan inilah kisah ku, seekor burung merpati.

    Seperti biasanya, aku bangun dan bertekukur, sekedar menghilangkan rasa kantuk dan melatih suaraku untuk menarik pasangan ku, nanti. Ya, nanti. Sebab aku selalu sendiri, tak ada tempat untuk menaruh hati.

    Setelah aku olahraga sebentar, sekedar mengepak-ngepakan sayap ku. Aku bersiap untuk berangkat mencari hal yang bisa aku makan. Dan meninggalkan sarang rumahku, yang ada di pohon jambu klutuk, ini.

    Aku memang selalu berpindah-pindah tempat tinggal, kadang di hutan, kadang di dekat tempat tinggal manusia, bahkan pernah aku tinggal di 'ranggon' burung merpati, namun aku diusir oleh burung merpati yang tinggal di sana, sebab aku bukan anggota koloni mereka.

    Hari itu, saat aku terbang ke area persawahan pak tani, aku melihat dia. Si cantik jelita, seekor merpati putih betina. Yang sedang mengais dengan cantik sisa-sisa padi yang tercecer di sawah pak tani.

    Ingin sekali rasanya aku mendekati dia, namun enggan ku menyeruak. Sebab beberapa hari yang lalu aku pernah mencoba mendekatinya, namun aku dibentak habis-habisan, takut aku dibuatnya.

    Lantas aku hanya bisa menatapnya dari pucuk ranting pohon Akasia Daru. Menikmati keelokan si cantik jelita, yang sedang makan. Berharap aku ditawari dan makan bersama seperti pasangan suami istri, aduhh hampir-hampir saja aku jatuh dari ranting tempat ku berpijak, karena lamunanku ini.

    Sekejap kemudian, ia pun pergi terbang entah kemana. Ingin rasanya aku ikut dan mengarungi untuk hidup bersama nya. Tapi aku yang pengecut hanya bisa menelan ludah. Lantas laparku mengetam, mengiris perih dalam perutku. Aku terbang merendah mendekati sisa ceceran padi, bakas makan si jelita tadi.

    Namun, belum juga aku kenyang tiba-tiba ada jaring yang menangkap ku. Disertai kekehan tawa manusia, aku tertangkap. Kejadian tersebut terjadi dengan tiba tiba, aku ditangkapnya dan dimasukkan ke sebuah keranjang. Setelahnya, keranjang mereka tutup dengan kain hitam, lantas aku dibawa pergi entah kemana.

    Di sebuah 'ranggon' (tempat burung), aku dikurung. Diberi makan jagung dan beras merah kesukaanku, namun aku menjadi tidak selera karena perlakuan ini. Sampai datanglah sore hari, aku yang seharian belum makan dan rasa laparku menyiksa ku, hanya termangu memandangi pintu keluar ranggon.

    Dan tiba-tiba saja, dari arah pintu si jelita masuk, entah datang dari mana. Dan mendekati tempat aku dikurung, "Puas sudah menjadi merpati kurungan?, Bukankah sudah aku peringatkan beberapa hari yang lalu, agar jangan mendekati tempat aku makan kan? Itu jebakan manusia, tau! Kamu ini, ganteng-ganteng tapi bo'on!" Hardik si jelita. Aku hanya bisa tercengang tau kenyataan nya, lantas aku bertanya, "tapi kenapa kamu dibiarkan bebas, sedang aku tidak?"

    "Itu karena kamu bodoh, mau-maunya ditangkap, bodoh" berkata seperti itu, lantas pergi meninggalkan aku yang tetap dalam kurungan. Si jelita itu cantik, dan selalu mempesona, tapi kata-katanya itu bikin hati bergidik, pikirku sambil berusaha makan makanan yang ada ditempat kurunganku. Entah kenapa setelah aku melihat si jelita langsung selera makan ku timbul, dan hilang gengsi ku.

    Setelah beberapa hari, aku sudah terbiasa di tempat manusia ini. Dan aku diberi kesempatan untuk keluar, meski tetap dalam pengawasan mereka. Dan aku sekarang dijodohkan nya dengan jelita, merpati betina yang selama ini aku hanya bisa menikmati keindahan nya dari jauh.

    Dan hari-hari sekarang aku lewati bersama jelita. Selain belajar terbang yang pikir manusia aku tak bisa setia pada jelita, maka mereka mengujiku, awalnya dari jarak dekat, lama-lama makin jauh dan aku selalu tepat kembali ke pelukan si jelita, kekasih ku itu. Dan itulah yang membuat aku tidak suka pada manusia, mereka seenaknya saja mempermainkan perasaan ku.

    Hingga suatu saat aku diharuskan mengikuti lomba. Dari lomba kecepatan, yang mungkin di dunia manusia disebut lari cepat jarak 50 meter, sampai uji ketangkasan mata, dimana aku di terbangkan dari jarak jauh kemudian aku harus tepat masuk ke kolongan yang mereka sediakan. Dan karena cinta ku pada jelita sangat besar, aku selalu memenangkan perlombaan itu.

    Semakin aku menang semakin banyak perlombaan yang mengikutkan aku dan jelita. Hingga suatu saat, aku merasa kelelahan yang sangat karena banyaknya perlombaan yang aku ikuti. Tapi, manusia memang tak punya perasaan, aku tetap dipaksa dan terus dipaksa untuk menang lomba.

    Aku sering mengeluh ke jelita, jika aku sudah lelah. Namun, kekasihku itu malah mencibir ku. Bukannya memberikan semangat atau semacamnya malah mengolok-olok ku seperti biasa. Sampai aku bosan sendiri dengan semua ini. Aku ingin pergi dan aku tidak bisa, semakin aku ingin semakin aku tak kuasa meninggalkan kehidupan membosankan ini.

    Sebenarnya bisa saja aku pergi dan meninggalkan jelita, namun dia sedang mengengkrami buah cinta kami. Aku tidak ingin dia dan telur kami merasa kesepian saat aku tinggalkan. Tapi ulah manusia lah yang membuat aku bosan dan tidak nyaman ini.

    Saat anak-anak kami mulai menetas, dan ada dua telur yang tak menetas. Jelita mengomel tak karuan. Dan itu membuat aku semakin tidak bisa berkonsentrasi lagi di setiap perlombaan yang selalu dan selalu memaksa ku.

    Hingga karena stress ku sudah tak tahan lagi, saat perlombaan yang berada agak jauh dari tempat tinggal kami. Aku sengaja terbang tidak ke arah jelita, namun aku pergi, terbang sekencang aku bisa, dan aku terbang entah kemana, aku sudah tidak tahu arah. Dalam pikirku, hanya aku harus pergi dan meninggalkan tempat yang membosankan itu.

    Setelah terbang jauh dari jelita dan kehidupan manusia. Aku mengembara lagi seperti dulu, hidup bebas tanpa perlu ini itu, tidak ada yang bentak-bentak, tidak ada yang harus aku menangkan, semua hidup terserah aku, dan aku bebas.

    Hari dan bulan berlalu, tak terasa sudah hampir setengah tahun aku menjalani kehidupan lamaku. Tiap hari harus mencari sendiri makanan, dan berpindah tempat tinggal.

    Dan hari itu, dari kabar burung Nuri, ada seekor merpati putih mencari ku. Dan katanya lagi, dia sedang bertengger di ranting Cemara yang biasa aku tinggali. Karena penasaran, aku cepat-cepat pulang. Disana sudah ada si jelita yang tidak ada penggantinya dalam hidup ku.

    Kemudian kami melepas rindu dan saling menanyakan keadaan, serta ia bercerita setelah aku pergi, ia pun sepat pergi mencariku, namun dia memilih untuk merawat buah hati kami. Dia juga bercerita jika anak-anak kami juga menjadi para juara seperti bapak nya. Aku bangga mendengar cerita si jelita. Dan terakhir dia bertanya apakah masih ada setianya di hati ku untuk nya, aku jawab dengan mantap, "ya, aku tetap setia kepada mu"

    Lalu, jelita mengajakku untuk melihat perlombaan yang dijalani oleh anak kami. Sesampainya di dekat tempat perlombaan, kami sama-sama mengomentari jalannya pertandingan itu. Dan anak kami keluar sebagai pemenangnya. Selanjutnya, jelita mengajak ku pergi, aku bertanya kenapa aku tidak boleh kenal dengan anakku? Dia menjawab dengan sedikit ketus, "apa kamu mau menjalani hidup yang katamu membosankan itu lagi? Sudahlah, kita nikmati saja sisa hidup kita sekarang berdua saja". Dan kami pun terbang melintasi dimensi yang disebut bahagia itu.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini