-->
  • Jelajahi

    Copyright © Intermezzo
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Ads

    Aliran Nagasatra 1.0

    BlackEye
    Friday, April 15, 2022, April 15, 2022 WIB Last Updated 2022-04-14T23:34:14Z
    masukkan script iklan disini

    Aku melangkah pelan-pelan, meninggalkan pondok kayu, sambil sesekali aku menoleh ke belakang. Entah, seperti ada orang yang sedang mengawasiku dari pondok tersebut. Dan perasaan ku pun tidak kalah was-was, mungkin karena kejadian tadi malam saat berada dalam Pondok di Tengah Hutan itu, pikirku.

    Tapi aku mantapkan saja jalan langkah ku menuju ke tempat Kakek buyut ku, yang memang sudah tinggal beberapa kilometer lagi, mungkin tepat sebelum tengah hari aku sudah sampai.

    Hujan memang pelit beberapa tahun ini, sehingga jalan yang dulu terasa rimbun penuh ilalang dan rumput liar di kanan kiri jalan tengah hutan ini. Beberapa tahun lalu, saat aku dan temanku melewati jalan ini, dalam semak-semak ada hewan-hewan kecil, seperti tikus tanah, kelinci liar, bahkan temanku saat itu berhasil menangkap landak.

    Namun, kini terlihat lebih gersang tapi malah membuat ku agak tenag berjalan, tidak takut jika tiba-tiba ada hewan yang mendekat, aku langsung tahu.

    Di jalan yang landai dan masih tanah berkerikil itu tidak ada yang berubah, kecuali cukup sedikit gersang saja. Sebenarnya, ada jalan pintas, yang mungkin tak sampai membutuhkan waktu sampai tengah hari sampai ke tempat Kakek buyut ku. Namun, harus menyeberangi sebuah danau yang lumayan luas, tepat beberapa meter dari Pondok di Tengah Hutan itu.

    Akan tetapi, aku tidak terlalu bisa mengendalikan perahu, dan tadi sebelum aku melanjutkan perjalanan ini. Aku sempat meneliti di pinggir danau, tidak ada perahu yang biasa tertambat di belakang pondok. Entah kemana perahu kayu kecil itu. Mungkin sedang ada yang memakai atau dicuri orang, aku tak begitu paham, coba nanti aku tanya ke Kakek Buyut ku.

    Setelah berjalan beberapa jauh, aku beristirahat di tempat biasa aku istirahat saat ke tempat ini. Sebuah batu lempeng besar yang berada di pinggir jalan. Aku juga heran, ditempat ini, sebenarnya jauh dari gunung berapi, ataupun jika batu itu diangkat oleh manusia, maka harus dibutuhkan banyak orang untuk mengangkut batu tersebut. Sebab, kata Kakek buyut, batu itu sudah ada jauh sebelum ia menemukan tempat itu. Dan unik nya, tidak ada lain lagi batu besar didekat sini. Kalau pun ada kerikil-kerikil kecil yang itupun mungkin terbawa oleh orang yang lalu lalang di jalan ini.

    Aku duduk-duduk sambil menikmati sisa bekal makanan yang aku bawa dari rumah. Memang hanya beberapa lembar roti dan air yang tadi, sebelum melanjutkan perjalanan aku isi dengan air yang ada di Pondok di Tengah Hutan. Sumber air yang bersih dan dari sumur bor yang ada di pinggir pondok, membuat aku yakin bahwa air ini bersih, dan tidak tercemar oleh kejamnya zaman modern.

    Sambil melamun, membayangkan kejadian-kejadian yang sudah aku alami di Pondok. Aku tertegun pada sebuah kerumunan orang yang jauh dari tempat ku beristirahat. Orang-orang itu entah sedang melakukan apa di pinggir danau. Dan kejadian itu sangat janggal menurut ku, sebab tempat ini, tempat yang jauh dari pemukiman, jauh dari akses jalan, dan baru kali ini aku melihat beberapa orang berkumpul di pinggir danau itu.

    Lama aku memandangi mereka, dan aku hanya mengira ira apa yang sedang mereka perbuat di tempat yang sebenarnya dan biasanya sangat sunyi jauh dari hurup pikuk kehidupan manusia. Lantas apakah Kakek tahu akan hal ini? Entahlah, nanti aku tanyakan saja kepada beliau.

    Lantas tiba-tiba ada api yang besar di tengah kerumunan orang-orang itu. Karena cukup jauh dari tempat ku, maka aku tak jelas kegiatan apa yang sedang mereka lakukan, sampai ada acara bakar-bakaran segala.

    Setelah penasaran ku tak terbendung lagi, aku mulai melanjutkan perjalanan ku, dan kali ini aku mempercepat langkah ku, agar cepat sampai dan menanyakan beberapa hal pada Kakek buyut ku.

    Tak lama kemudian aku sudah masuk ke kawasan pekarangan rumah Kakek buyut ku. Ada yang berubah rupanya dari terakhir aku melihatnya. Dulu hanya ada rumah panggung dari kayu, dengan ornamen yang terkesan dibuat asal-asalan. Lantas dulu, hanya sekukuran rumah kecil dengan ukuran kira-kira empat sampai lima meter persegi. Namun, selain sekarang tampak megah dengan hiasan-hiasan aneh, dan ukuran nya berkali-kali lipat membesar. 

    Dari sejak kapan Kakek buyut ku membuat semua ini, dan siapakah yang membuat rumah Kakek Buyut ku berubah derastis. Aku yakin bukan Kakek seorang diri yang membangun nya. Tapi siapa, sampai aku tidak mengetahui nya.

    Belum juga hilang rasa takjub ku, tiba-tiba datang seorang wanita cantik yang hanya memakai kemben kain batik, yang biasa dinamai Jarik. Mendatangi ku seraya berkata, "Adik ini siapa? Ada keperluan apa datang ke padepokan?", Haah padepokan pikirku, inikan properti milik kakek buyut ku, kenapa malah jadi padepokan.

    "Aku Tini, kak. Aku diundang oleh Kakek Marijo untuk datang ke sini. Lantas kakak ini siapa?" Tanyaku kemudian. Namun, setelah aku jawab seperti itu, tiba tiba wanita tadi jongkok dan melakukan posisi seperti menyembah, "Ampun tuan putri, saya tidak tahu kalau anda tuan putri Tini".

    Karena tidak terbiasa dibegitukan, buru-buru aku memapah wanita tadi untuk berdiri. Tapi dia tidak mau, tetap saja dia jongkok di depanku. Karena semakin tidak enak, aku pamit untuk mebertemu dengan Kakek Buyut ku.

    "Sinumun sedang tidak ada di rumah, beliau sedang bersembahyang di Danau, kiranya Tuan Putri, mau beristirahat, mari saya tunjukkan tempat nya, sambil menunggu Sinuwun selesai bersembahyang", kepalaku terasa bleg, ribuan pertanyaan yang tak bisa kutampung ini seolah-olah ingin membuat kepala ku pecah.

    Aku menurut saja dengan perempuan tadi. Di antara lah aku ke sebuah kamar yang wangi dan sangat wangi bunga kenanga, bunga yang paling aku senangi. Setelah mengantar ku, perempuan tadi minta izin untuk melanjutkan pekerjaannya.

    Di dalam kamar, serasa dingin menusuk, meskipun diluar sungguh sangat panas. Tapi itu bukan dari AC, sebab aku cari-cari tidak ada AC yang terpasang di kamar itu. Terpaksa aku ambil jaketku, untuk sekedar mengusir rasa dingin yang menusuk ini.

    Lantas aku rebahkan tubuhku ku di ranjang yang benar-benar empuk dan wangi khas bunga kenanga. Sambil berbaring, aku memandang sekitar dinding kamar, sampai ke langit-langit kamar. Barulah aku menyadari bahwa dari depan pintu masuk dan bahkan sampai dinding kamar ini, penuh dengan lukisan raksasa dan ular Naga. Entah apa maksudnya, yang pasti aku sangat merasa mengantuk, dan aku tidak kuasa menahan tidur ku.

    Entah aku sedang mimpi atau terjaga. Aku seperti didatangkan ke dimensi yang tadi malam aku memasuki nya, yaitu ruangan putih, lantas alunan sayup-sayup musik yang menjadi favorit Kakek buyutku. Aku langsung mengira-ngira, pasti perempuan yang menjijikkan itu datang lagi.

    Benar saja, tiba-tiba ada asap putih memenuhi ruangan itu. Dan sosok yang tadi malam mendatangi ku pun datang juga. Tetapi dengan wujud perempuan yang tadi aku temu saat memasuki rumah Kakek Buyut ku.

    Dengan sikap yang sama, jongkok di depan ku, sambil menundukkan wajahnya, perempuan itu tidak berkata apa-apa. Lantas aku dekati dan aku juga jongkok di sampingnya, "Apakah kamu yang tadi malam datang dengan wujud manusia ular?" Tanya ku. Dijawabnya dengan anggukan.

    "Lantas kenapa sekarang wujud mu seperti perempuan yang tadi aku temui?" Tanyaku lagi, "Maafkan atas kelancangan hamba, Tuan Putri. Sungguh hamba sudah melakukan kesalahan. Jika Tuan Putri mau menghukum hamba, hukum lah hamba, dan dengan senag hati hamba menerima hukuman apapun dari Tuan Putri" jawab perempuan tadi.

    "Oke, kalau itu mau mu, aku akan menghukum mu, sekarang juga", lantas aku peluk perempuan itu, dan aku ciumi wajah cantiknya itu, seraya berbisik ke telinga perempuan itu, "Kamu cantik, aku hukum kamu untuk memuaskan hasrat seksual ku, buat aku melayang, buat aku penuh nafsu birahi, dan buat aku berada di puncak kenikmatan".

    Setelah aku berkata seperti itu, mulailah perempuan itu menghadapi ku, mencumbui hasrat ku sebagai wanita penyuka sesama jenis. Yang hanya bisa aku rasakan dalam angan-angan ku. Memang aku menyukai perempuan dibandingkan dengan laki-laki, lantas aku tidak bisa atau tidak berani untuk mengungkapkan perasaan ini, yang hanya bisa aku pendam sambil membayangkan tubuh ku diraba-raba oleh seorang perempuan cantik.

    Dan aku pun merasakan hal sensasi yang selama ini aku inginkan, aku benar-benar merasa sangat keenakan dan sangat nyaman. Perempuan itupun membuat ku benar-benar melayang dengan jilatan dan kecupan di daerah sensitif ku, aku nikmati semua, toh ini kan hanya berada di dimensi alam bawah sadar. Karena aku yakin tadi sebelum aku memasuki ruangan serba putih ini, aku rebahkan tubuhku dan aku merasa sangat mengantuk.

    Bersambung..
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini