Hari itu panas ibukota membakar kulitku, mendahagakan tenggorokan ku. Lantas langkah-langkah ku mulai gontai, seiring derap roda-roda kendaraan yang tak kenal waktu.
Terbayang wajah istri ku, akan marah besar saat tau aku habis dibegal. Habis sudah segala yang terkumpul selama sebulan penuh, jerih payahku terbayar dengan aksi bejat mereka yang tega merampas gaji sebulan ku.
Terbayang kebutuhan selama sebulan ini, bagaimana mencukupi nya, biaya makan, sewa kontrakan, jajan anak-anak ku, biaya sekolah mereka, belum lagi keperluan bulanan dan ditambah uang buat istri cantik ku.
Bayangan-bayangan itu 'mencakari' kekuatan ku untuk melangkah pulang ke rumah. Dan hampir malam, langkah gontai ku tak tau akan kemana melangkah nya.
Singkat cerita, entah sudah berapa lama aku terbaring di halte busway itu. Keadaan sepi, dan aku tidak tau sudah jam berapa malam itu.
Aku terbangun, sebab aku bermimpi didatangi seorang kakek tua, dan kakek itu memberikan trik untuk menjadi kaya dalam sekejap saja.
Kata kakek itu dalam mimpi ku, aku harus mandi dengan bunga tujuh rupa, lantas setelah itu aku harus mendatangi tujuh mata air, dan selama aku melakukan itu semua, aku harus menjalani hidup nyepi, atau tidak bergaul dengan orang lain.
Pikiranku lantas menerawang jauh, dari mana kembang tujuh rupa, dan tujuh mata air itu, aku yang sebenarnya tidak terlalu percaya hal mistis, bimbang menanggapi mimpi aneh tersebut.
Namun aku seperti ditunjukkan jalannya, aku mendapati kembang tujuh rupa, dan rupanya dekat halte itu ada taman dengan berbagai macam bunga, lantas aku mandi dengan kembang itu, di toilet umum. Setelah semua siap, malam itu juga aku berniat mencari tujuh sumbar mata air.
Selama tiga hari tiga malam, aku berkeliling gang ke gang, dan genap malam ketiganya aku tuntaskan syarat yang diberikan kakek tua dalam mimpi. Dan selama tiga hari itu, aku tidak merasa lapar, ngantuk atau lelah. Dan juga aku tidak pernah pulang genap empat hari, tanpa kabar ke istri dan anak-anakku.
Selanjutnya, karena sugesti aku bisa kaya dalam sekejap, aku beranikan diri untuk melamar pekerjaan di sebuah toko kelontong, dan seperti dimudahkan, aku diterima hari itu juga. Lalu setelah selesai, pekerjaan ku, aku baru pulang setelah empat hari empat malam ke kontrakan ku.
Sesampai di rumah, istri dan anak ku terharu akan kepulangan ku, dipeluknya erat-erat tubuh ku. Dan entah kenapa, istriku tidak banyak tanya, tidak seperti biasanya. Lantas aku menceritakan semua kejadian yang aku alami, dari aku dirampok sampai aku dapat kerjaan yang lebih baik daripada yang kemarin.
Entah karena sugeti itu, aku jadi gampang bergaul dan pekerjaan ku juga bagus. Selang tiga bulan aku bekerja, aku diajak seorang teman untuk membuka warung kecil-kecilan di pinggir jalan, warung makan dengan menu lele goreng dan ayam goreng. Karena di tempat itu, tidak banyak lalapan lele dan ayam, maka barang dagangan kami cepet abis.
Karena keuletan dan ketelatenan yang aku dapatkan dari sugesti mimpi, akhirnya genap setahun aku membuka sendiri rumah makan sederhana bersama istri ku. Saking larisnya, sampai-sampai belum ada tiga tahun, yang awalnya cuma rumah makan biasa sekarang menjadi restoran, dan kami punya beberapa orang karyawan.
Sebenarnya, semua yang terjadi di kehidupan ku ini, bukan karena bunga tujuh rupa atau tujuh mata air. Namun, keyakinan dan keuletan semua menjadi mudah. Namun, harus aku akui, jika saat itu aku tidak mengalami mimpi yang menjadi sugesti aku cepat kaya, mungkin aku masih menjadi pengumpul sampah. Makanya, itu semua karena keyakinan pada tujuan yang di capai.
Setelah aku pikir-pikir, semua syarat yang berjumlah tujuh itu, sebenarnya adalah istilah agar aku mendapatkan tujuan dalam hidup, dan berusaha mewujudkan tujuan-tujuan dan berusaha mencapainya. Semoga kisah ku ini, menjadi inspirasi buat kalian yang kehilangan tujuan hidupnya.

